Khotbah

  • Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Melibatkan Semakin Banyak Orang Di Dalam Ibadah

Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (Mrk. 9:39-40)

 

Pada suatu saat di tempat tertentu, ada gereja dalam menyelenggarakan  peribadahannya yang memimpin (hampir total atau  100% dari awal ibadah sampai selesai) adalah pendeta yang berkhotbah atau yang memberitakan firman Tuhan.  Semua jemaat sejak datang lalu saat teduh hingga selesai ibadah dan saat teduh lagi, (selain menyanyi dan persembahan) duduk manis, menjadi pendengar.

Bagaimana pandangan atau pendapat bapak, ibu dan saudara dengan keadaan itu? Milik siapakah sebenarnya ibadah tersebut? Siapa sajakah yang harus berperan dalam ibadah? Jika terjadi dalam suatu peribadahan di mana jemaat tidak aktif terlibat siapa sebenarnya yang kurang benar? Salah pengkhotbah, majelis atau jemaat?

Paulus di dalam suratnya menegaskan, “..., supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm. 12:1) Apakah sudah cukup, kita datang memberikan persembahan, turut bernyanyi, dan lebih banyak menjadi pendengar?  Tentu tidak.

Tuhan Yesus memanggil dan menjadikan gereja (tubuh-Nya) banyak anggota. Satu tubuh (dengan karunia dan talenta masing-masing yang Tuhan berikan) agar semua berperan, semua terlibat, semua menjadikan hidupnya sebagai ibadah yang sejati melalui keterlibatannya. Adalah tidak benar ketika hanya satu dua orang mendominasi peribadahan. Semakin banyak yang bisa dilibatkan dan terlibat dalam peribadahan tentu menyaksikan bahwa inilah ibadah yang benar, ibadahnya jemaat dalam menghadap, bersekutu dan menyembah Tuhan Yesus Sang Raja Gereja.

Sikap yang seperti itu tentu tidak hanya dalam persekutuan orang-orang percaya saja, tetapi juga dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Di mana kita diutus kesana. Di mana kita dipanggil dan diutus untuk menyatakan karya-Nya, Injil-Nya.

Kita dipanggil dan diutus untuk menyatakan ibadah yang sejati, menyaksikan iman percaya kita bukan hanya untuk diri sendiri (dalam persekutuan kita saja), tetapi juga di luar.

Selain itu kita juga diajar, untuk tidak memandang rendah atau meremehkan orang diluar persekutuan (sehingga kita lalu merasa lebih berkuasa, lebih hebat atas orang lain, jatuh dalam kesombongan dan kehilangan kerendahan hati). Kita juga harus terbuka dan menghargai orang lain, sejauh tidak melawan Tuhan dan dengan perbuatan orang lain itu tidak menjauhkan kita dan orang lain dari Tuhan. Oleh karenanya Tuhan Yesus berkata, “Jangan kamu cegah dia!... Ia ada di pihak kita” (Mrk. 9:39, 40). Tuhan mau dan memberi peluang bagi orang lain juga untuk memuliakan-Nya, terlibat dalam ibadah yang sejati. Dengan begitu, makin banyak yang terlibat memuliakan Allah, terlibat dalam Ibadah, sujud menyembah-Nya.  Teruslah bersemangat terlibat dalam Ibadah Sejati. Tuhan memberkati. Amin.

 

Doa: “Tuhan, kobarkan semangat kami untuk terus berperan dalam ibadah yang sejati. Amin”

 

Pdt. Hosea Sudarna

26 Sep 2015 ,written by Nikimaserika
 

KERENDAHAN HATI ADALAH PERHIASAN IBADAH

Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan ... Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Mrk. 9:36-37)

 

Dua nats tersebut di atas adalah gambaran dan sekaligus pengajaran bagi para murid. Bahkan hal itu hendak menjelaskan apa yang Tuhan Yesus sampaikan dan jalani sebagai teladan dan pengajaran,  "Anak Manusia  akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari  sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." (Mrk. 9:31).

Allah dalam Yesus menganugerahkan keselamatan, kebahagiaan, Injil (kabar baik/sukacita) dengan pengorbanan, penderitaan bahkan mati dan bangkit dalam kerendahan hati. Berbagi dalam dan dengan kerendahan hati, bahkan merendahkan diri-Nya, untuk yang berdosa, yang lemah, dan yang kecil.

Seorang Boss pemilik bank yang kaya raya, suatu kali diajak temannya berkunjung ke Panti Asuhan. Namun setelah acara selesai, hati sang Bankir bergumam pada temannya: ”Kamu bohong, katanya kalau aku main ke sini, hati pasti bahagia ....”

Dengan langkah lesu, ia pun kembali ke mobilnya.  Belum sampai menutup pintu mobilnya, tiba-tiba ada seorang anak perempuan kecil menghampirinya dan berkata, “Oom, mau pulang ya...., boleh nggak Ana minta sesuatu ....?”  Sang Bankir tersenyum, ia seorang yang kaya, apa yang tidak bisa dibelinya, apa lagi untuk anak kecil ini.  “Memangnya kamu mau minta apa...?” tanya sang Bankir. “Oom, Ana pingin manggil Ayah ke Oom ...., boleh nggak?”  Sang Bankir kaget ....,  tenggorokannya tersumbat ...., ternyata bukan boneka atau uang yang diminta ...., hanya sebutan Ayah .... Tanpa terasa hatinya bergetar.  “Boleh, .... Ana boleh panggil Ayah ke Oom ....” kata sang Bankir ceria. “Makasih, Ayah...., kapan Ayah datang lagi?” sahut Ana haru dan rindu penuh harap. Lagi Ana menyampaikan, ” Ana boleh minta satu lagi ke Ayah...? Ana minta kalau Ayah datang lagi ke sini,  bawa foto ayah ya ...., Ana mau simpan di kamar. Jadi kalau Ana kangen sama Ayah, Ana bisa lihat foto Ayah ....” Dengan berlinang air mata, Bankir itupun segera memeluk Ana sambil berbisik lembut, “Besok Ayah datang lagi bawa foto,  dan Ayah akan sering ke sini untuk ketemu Ana.” Hati sang Bankir sangat bahagia, ya… sekarang ia bahagia....

Betapa kebahagiaan itu hadir ketika  kerendahan hati mendasari  sikap dan perilaku. Kebahagiaan itu berkembang/bertambah ketika kita ringan berbagi dalam kerendahan hati, dan kita lakukan pada orang yang membutuhkan. Apalagi ketika kita sadar itu kita lakukan sebagai ucapan syukur bagi-Nya.

 

Doa : “Tuhan, bimbinglah hamba dalam kerendahan hati melakukan teladan-Mu,sebagai ibadah yang sejati. Amin”.

 

Pdt. Hosea Sudarna

19 Sep 2015 ,written by Nikimaserika
 

DENGAN LIDAH KITA MENGAKU DAN MEMULIAKAN ALLAH

“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.” (Yes. 50:4)

 

“Hati hati kalau bicara, mulutmu adalah harimaumu”.  Ungkapan tersebut  mengingatkan atau memberi nasehat, agar orang berhati-hati dalam berbicara, agar orang menjaga mulutnya. Juga bermakna dan memberi pengertian bahwa mulut itu berbahaya. Salah-salah berbicara, maka kata-kata atau ucapan yang keluar dari mulut bisa merobek hati orang. Ucapan yang berkekuatan itu merusak, menghancurkan dan menyakiti hati serta  perasaan orang lain. Bak harimau dengan kekuatannya yang luar biasa menerkam mangsanya.  Jika demikian, kok mulut seolah-olah menjadi alat yang berbahaya. Negatif. Benarkah demikian? Tidak adakah hal yang positif dan konstruktif (membangun) yang keluar dari mulut manusia ? Lalu dari mana kita mengontrolnya?

Kalau ada orang mengatakan, “Memang lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati ....”.  Ketika hati bersuara kebenaran, ternyata yang keluar dari mulut belum tentu kebenaran. Hal ini karena lidah juga menampung apa yang masuk dari telinga, mata dan perasaan diteruskan oleh  pikiran dan lidah menyampaikan ucapan melalui mulut. Jadi yang menjadi penentu ucapan adalah Lidah. Itu sebabnya Yesaya menasehatkan, ‘’ Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid,...”. (Yes. 50:4)  Pertama, Yesaya menasehatkan bahwa lidah yang ia miliki adalah karunia Tuhan. Kedua,  Lidah yang Allah berikan adalah lidah Seorang Murid dan bukan lidah guru. Maksudnya adalah lidah akan bersuara melalui mulut atas dasar segala yang masuk dari Sang Guru sejati, Allah. Oleh karenanya Yesaya  menandaskan, “ Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.  Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.” (ay. 4b,5)

Allah malakukan hal itu dengan tujuan agar :  1. Seperti  Petrus kita benar-benar menyadari dan meng-aku-i ( sebagai yang benar-benar memiliki dan hidup dalam Tuhan Allah, sehingga mampu menyaksikan kebenaran,seperti -- jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" (Mrk. 8:29)

2. Allah, Tuhan Yesus menjadi sumber pengajaran/masukan. Maka seperti Petrus bersaksi kebenaran namun juga mendatangkan kebenaran dan kebaikan bagi orang lain. Sebagaimana dituturkan Yesaya yang menerima lidah sebagai seorang murid agar diperuntukkan, “... dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. “ (Yes. 50:5b)

Dengan Lidah seorang murid manusia atau kita orang percaya meneruskan (melalui ucapan) berkat, kekuatan atau kabar baik bagi orang lain/mereka yang sungguh membutuhkan dukungan. Baik ketika kondisi yang kita hadapi  mudah atau menyenangkan maupun ketika kondisi sulit, berat dan bahkan sangat menyakitkan. Sebagaimana  pengajaran  Tuhan Yesus dalam kesaksian Markus, “ Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan  dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh ...”.  (Mrk. 8:31; lih juga. Yes. 50:6)

Bagaimana dengan  saudara? Bukankah lidah kita adalah lidah yang bersumber pada kebenaran. Bukankah dengan menguduskan kita melalui babtisan (dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus) lidah kita dijadikan lidah seorang murid?  Lidah yang akan menuntun pada kesetiaan, lidah yang akan tetap membawa kita hidup dalam Tuhan yang hidup? Lidah yang membangun dan meneruskan berkat serta kekuatanNya? Selamat mengelola  dan menggunakan lidah seorang murid, pemberianNya. Tuhan memberkati.

 

Doa : “Tuhan, mampukan kami menjadikan lidah karuniaMu menyaksikan

kebenaran kemuliaanMu. Amin”

 

Pdt. Hosea Sudarna

12 Sep 2015 ,written by Nikimaserika
 

DENGAN LIDAH KITA MENGAKU DAN MEMULIAKAN ALLAH

“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.” (Yes. 50:4)

 

“Hati hati kalau bicara, mulutmu adalah harimaumu”.  Ungkapan tersebut  mengingatkan atau memberi nasehat, agar orang berhati-hati dalam berbicara, agar orang menjaga mulutnya. Juga bermakna dan memberi pengertian bahwa mulut itu berbahaya. Salah-salah berbicara, maka kata-kata atau ucapan yang keluar dari mulut bisa merobek hati orang. Ucapan yang berkekuatan itu merusak, menghancurkan dan menyakiti hati serta  perasaan orang lain. Bak harimau dengan kekuatannya yang luar biasa menerkam mangsanya.  Jika demikian, kok mulut seolah-olah menjadi alat yang berbahaya. Negatif. Benarkah demikian? Tidak adakah hal yang positif dan konstruktif (membangun) yang keluar dari mulut manusia ? Lalu dari mana kita mengontrolnya?

Kalau ada orang mengatakan, “Memang lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati ....”.  Ketika hati bersuara kebenaran, ternyata yang keluar dari mulut belum tentu kebenaran. Hal ini karena lidah juga menampung apa yang masuk dari telinga, mata dan perasaan diteruskan oleh  pikiran dan lidah menyampaikan ucapan melalui mulut. Jadi yang menjadi penentu ucapan adalah Lidah. Itu sebabnya Yesaya menasehatkan, ‘’ Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid,...”. (Yes. 50:4)  Pertama, Yesaya menasehatkan bahwa lidah yang ia miliki adalah karunia Tuhan. Kedua,  Lidah yang Allah berikan adalah lidah Seorang Murid dan bukan lidah guru. Maksudnya adalah lidah akan bersuara melalui mulut atas dasar segala yang masuk dari Sang Guru sejati, Allah. Oleh karenanya Yesaya  menandaskan, “ Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.  Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.” (ay. 4b,5)

Allah malakukan hal itu dengan tujuan agar :  1. Seperti  Petrus kita benar-benar menyadari dan meng-aku-i ( sebagai yang benar-benar memiliki dan hidup dalam Tuhan Allah, sehingga mampu menyaksikan kebenaran,seperti -- jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" (Mrk. 8:29)

2. Allah, Tuhan Yesus menjadi sumber pengajaran/masukan. Maka seperti Petrus bersaksi kebenaran namun juga mendatangkan kebenaran dan kebaikan bagi orang lain. Sebagaimana dituturkan Yesaya yang menerima lidah sebagai seorang murid agar diperuntukkan, “... dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. “ (Yes. 50:5b)

Dengan Lidah seorang murid manusia atau kita orang percaya meneruskan (melalui ucapan) berkat, kekuatan atau kabar baik bagi orang lain/mereka yang sungguh membutuhkan dukungan. Baik ketika kondisi yang kita hadapi  mudah atau menyenangkan maupun ketika kondisi sulit, berat dan bahkan sangat menyakitkan. Sebagaimana  pengajaran  Tuhan Yesus dalam kesaksian Markus, “ Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan  dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh ...”.  (Mrk. 8:31; lih juga. Yes. 50:6)

Bagaimana dengan  saudara? Bukankah lidah kita adalah lidah yang bersumber pada kebenaran. Bukankah dengan menguduskan kita melalui babtisan (dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus) lidah kita dijadikan lidah seorang murid?  Lidah yang akan menuntun pada kesetiaan, lidah yang akan tetap membawa kita hidup dalam Tuhan yang hidup? Lidah yang membangun dan meneruskan berkat serta kekuatanNya? Selamat mengelola  dan menggunakan lidah seorang murid, pemberianNya. Tuhan memberkati.

 

Doa : “Tuhan, mampukan kami menjadikan lidah karuniaMu menyaksikan

kebenaran kemuliaanMu. Amin”

 

Pdt. Hosea Sudarna

12 Sep 2015 ,written by Nikimaserika
 

KASIH ADALAH PUNCAK PERIBADAHAN

Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

(Markus 7:37)

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Allah telah  menyatakan Diri-Nya, dengan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Kesaksian yang demikian menyatakan  bahwa kita di dalam Allah, dan Allah menyertai (didalam) kita.   Rasul Yohanes di dalam suratnya menyampaikan,  “...  Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”  (I Yoh. 4 : 16).

Karya Tuhan Yesus dalam menyembuhkan orang  yang tuli dan bisu, adalah pernyataan KASIH-NYA. Inilah yang menjadikan segala-galanya baik. Akankah kita senantiasa di dalam kasih? Akankah syukur  (hidup dan aktivitas) kita senantiasa menjadi  ibadah yang sejati, artinya berdasar atau terbungkus dalam kasih? Atau dalam proses ke hal tersebut?

Keluarga Stephanus dihadapkan pada pergumulan yang serius, ketika anak bungsunya (laki-laki satu-satunya) lahir dalam keadaan tuna wicara dan pendengaran. Kesabaran dalam perjuangan dan ketekunan mereka di dalam doa, --akan harapan  untuk bisa mendampingi si bungsu dalam cinta kasih--   membuahkan kekuatan baru setelah si bungsu berusia 5 tahun.  Yaitu ketika anak perempuan pertama pak Stephen berhasil belajar dan mengajak komunikasi adiknya dengan bahasa isyarat. Lima tahun bergumul dalam upaya menyatakan cinta kasih dan putus asa, kecewa, menyalahkan diri sendiri, bahkan kadang memicu keributan. Menyukuri hal itu, keluarga pak Stephen termotivasi (tersemangati) oleh kerinduannya untuk bisa berbahasa isyarat, agar bisa terus mencurahkan perhatian/pendampingan terhadap si Bungsu dengan kasih sayang yang dalam. Menginjak usia 10 tahun, keluarga itu sudah bisa fasih menggunakan bahasa isyarat guna melakukan pertemanan dan perhatian terhadap si Bungsu.

Berkat pendampingan tersebut, sampai  suatu saat si Bungsu terinspirasi dan termotivasi ketika melihat di layar TV seorang yang tidak bertangan dan berkaki bisa menjadi pemain musik dan pelukis bahkan  menjadi seorang  motivator.  Hal inilah yang memandirikan si Bungsu menjadi seorang menejer suatu perusahaan di Australia dan sudah berkeluarga.

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana perjuangan keluarga pak Stephen dalam upayanya untuk menjadikan Kasih Allah sebagai puncak ibadah dan syukur mereka. Dan apa yang mereka perjuangkan menjadi kesaksian akan iman percaya mereka. Bagaimana dengan pengalaman saudara? Akankah Kasih-Nya itu tetap terus mempersatukan dan menjadi puncak ibadah kita?

 

Doa : Ya Tuhan, tuntunlah hamba dengan kuasa kasih-Mu agar mampu mempersembahkan hidup menjadi ibadah yang sejati.  Amin.

 

Pdt. Hosea Sudarna

06 Sep 2015 ,written by Nikimaserika
 


Page 6 of 18