Khotbah

  • Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

ADAKAH SORGA DIRUMAH KITA ?

ADAKAH SORGA DI RUMAH KITA?

oleh : Pnt. Maryono


      
     Pada saat menghadiri upacara pernikahan kita selalu mengucapkan selamat berbahagia sampai kakek – nenek ; Selamat menempuh hidup baru semoga sukses, dan ucapan lain yang manis dan enak didengar. Pernah saya membaca ada seorang mengucapkan kepada pengantin demikian : Selamat merajut cinta kasih anda dalam penderitaan. Penderitaan ? Kemudian saya teringat pernyataan aneh juga : Apabila ingin melihat sorga atau neraka, kawinlah ! Apa memang Lembaga perkawinan merupakan bayangan Sorga dan Neraka, tentunya tidak demikian. Mungkin yang dimaksudkan adalah antara suasana bahagia penuh harapan dan pergumulan, pertengkaran terjadi silih berganti.

       Kalau kita cermati dalam pengalaman hidup kita sebagai suami isteri , ada tahapan yang lazim ditemui di pasangan suami istri dalam hidup berumah tangga . Konon, awalnya suami banyak janji, isteri setia mendengarkan ; Pada periode berikut, saat tuntutan keluarga meningkat giliran isteri mengeluh dan banyak membicarakan belanja tidk cukup, sementara suami diam mendengarkan. Tahap puncak, suami dan isteri sama-sama bicara, dengan berbagai masalah dapur, anak sampai orang ketiga, akhirnya saling menyalahkan. Siapa yang mendengarkan? Anak dan tetangganya. Bahkan faktanya perjalanan hidup suami isteri diakhiri dengan perceraian yang menghanguskan harapan bagi keluarga mereka. Pertanyaannya : Apakah ada Sorga di rumah mereka ?

       Pemazmur menuturkan pesan Tuhan yang sangat indah : Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya ( Maz 127 : 1 a). Kata ‘rumah’ dalam ayat ini seringkali ditafsirkan sebagai ‘rumah tangga’. Tradisi Yahudi sendiri cenderung menafsirkannya sebagai ‘rumah TUHAN’. Sementara itu, Septuaginta, Alkitab terjemahan bahasa Yunani, memakai kata oikon (dari oikos) untuk ‘rumah’. Ayat ini sangat jelas menegaskan bahwa Rumah yang diartikan Bait Allah ; Rumah biasa; atau satuan Keluarga adalah sebuah bangunan yang bukan hasil rancangan kemampuan manusia tetapi rancangan Allah. Rumah harus dibangun sesuai pola Allah, paling tidak memenuhi beberapa criteria sesuai firman Tuhan :

1. Tempat kudus, Kel 25 : 8-9 : Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam ditengah-tengah mereka. Tuhan diam di Kemah Suci yang kudus sesuai contoh yang ditunjukan oleh-Nya. Tuhan menghendaki keluarga kita adalah keluarga yang kudus, tidak tercela dihadapan Tuhan agar Ia diam dan tinggal didalam rumah kita. Kekudusan itu bukan bahan jadi. Orang Kristen harus berusaha terus menerus untuk hidup semakin sesuai kehendak Allah yang menjadi pemiliknya. Didalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh ( Ef 2:22)

2. Tempat hukum Allah . Kel 38 :21 Kemah Suci tempat hukum Allah. Demikian pula Rumah kita adalah tempat hukum Allah bekerja atau sebagai pijakan dalam menempuh kehidupan agar setiap langkah kehidupan sejalan dengan kebenaran firman Tuhan bukan kebenaran sendiri apapun alasannya. Orang hidup sebagai keluarga Allah adalah tiang penopang dan dasar kebenaran.

3. Tempat Persembahan. Tempat ritual untuk mempersiapkan persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Maksud persembahan diatas mezbah (Kej 8:20) dalam PL dan persembahan di PB ( Rm 12:1) , inti sebenarnya sama yaitu yaitu sikap rohani yang bercirikan penyesalan, pertobatan dan penyerahan diri

4. Tempat penebusan dimana keluarga tempat memberi diri untuk di baptis. Kemah Allah ada ditengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama mereka. Ia akan menghapus air mata kita ; tidak ada lagi perkabungan, duka cita (Why 21 3-5).

       Ada banyak hal yang dapat diungkap dari firman Tuhan tentang pola keluarga yang dikehendaki Allah. Dari sebagian pola tersebut diatas, cobalah jawab pernyataan Paulus : Sudahkan engkau tahu orang harus hidup sebagai keluarga Allah ( 1 Tim 3:15 ). Benarkah Keluarga , rumah atau Gereja kita sudah menjadi tempat yang kudus, tempat praktek kehidupan berjemaat sesuai firman Tuhan, tempat mempersembahkan tubuh dan jiwa dan tempat penebusan didalam Kristus didalam seluruh keluarga kita ?

       Adalah jawaban yang jujur bahwa Gereja kita,rumah kita, keluarga kita masih berjuang untuk memenuhi standart sesuai pola yang dikehendaki Allah. Bahkan kita memerlukan kekuatan yang besar untuk membangunnya. Sekali lagi pemazmur mengingatkan, kekuatan besar itu : “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”

Tuhan memberkati.

 

   
      
     

02 Oct 2012 ,written by Siswanto S.N.
 

Hati terpikat dan terjerat

  

HATI TERPIKAT DAN TERJERAT

oleh: Pnt. Yon Maryono

  

       Wanita mana yang hatinya tidak suka dengan kata-kata rayuan? Pernyataan itu tidak hanya relevan jaman sekarang, tetapi pada awal mula penciptaan, perempuan telah terpikat rayuan ular untuk makan buah pohon pengetahuan yang dilarang Tuhan. Demikianlah perintah Tuhan kepada manusia : Semua pohon dalam Taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahatitu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati. Hal ini bermakna, kebebasan itu dengan syarat, manusia harus menahan diri dari apa yang sudah ditetapkan Allah agar tidak dilakukan manusia (Kej 2:15-17). Ternyata, manusia tidak peduli terhadap perintah Tuhan. Sosok Ular, sebagai figure iblis memikat manusia, untuk memanjakan keinginan dirinya, sehingga manusia menolak bergantung pada Sang Pencipta.  Tanggung jawab kesalahan atas pilihan itu bukan terutama pada ular melainkan pada diri manusia itu sendiri sehingga merusak keharmonisan hubungan antara manusia dan Allah. Itulah yang terjadi dalam diri manusia sehingga jatuh dalam dosa. Akibatnya, Tuhan menghalau mereka dalam kehidupan yang harus dihadapi dengan susah payah, manusia keluar dari hadirat Tuhan. Murid Yesus, seperti Yudaspun  terpikat dan tidak dapat lepas dari pengaruh Iblis. Pengaruh itu ada sejak mula, jaman Kristus bahkan sampai sekarang atau akhir jaman. Mengapa ? Firman Tuhan :  Aku (Tuhan) akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini antara keturunanmu dan keturunannya (Kej.3:15).

       Dengan jujur renungkanlah, adakah perbuatan ini selalu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti : pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan , perzinahan, keserakahan, kejahatan , kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mark 7:21-22).  Yakobus menuliskan : Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan (Yakobus 3:14-15). Oleh karena itu : Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata : Percobaan ini datang dari Allah . Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1 :13-15).

 

       Karakter jahat atau kegelapan itu sudah menguasai manusia, sehingga manusia tidak dapat lagi mengenali atau mencari kebenaran atas usahanya sendiri..Paulus menuliskan : Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik (Roma 7:18). Jika kita telah memahami hal ini maka dengan sendirinya kita mengetahui bahwa tanpa Anugerah dari Allah maka manusia tidak akan pernah bisa kembali kepada Kebenaran yang sesungguhnya Sehingga  apa yang dipilih manusia tidak berpusat lagi kepada Allah.

 

Jagalah hati 

      Dalam psikologi,  ego manusia terkait dengan badan, otak, dan hati. Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan pikiran, hati dengan intelektual, maka  Intelektual dalam hal ini sangat penting karena otak dan badan di bawah kendali dan berasal dari intelektual. Intelektual adalah pusat manusia (the centre of human being), yang bersemayam di dalam hati . Dalam ilmu psikologi Kualifikasi intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Jika tidak didampingi spiritual, intelektual tidak akan berfungsi. Secara psikologis,. Intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia sepenuhnya hidup di dalam kebenaran

       Alkibab adalah sumber segala pengetahuan. Oleh karena itu, narasi dalam Psikologi sudah sepenuhnya tertuang di Alkitab. Narsi dalam Alkitab sering mengidentifikasi bahwa pusat perintah keinginan manusia tergantung dari sikap hati, atau Levav (bahasa ibrani). Kecenderungan manusia untuk bersikap atau bertindak ditentukan oleh Hati, dan dari hati cenderung selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej  6:5). Hati adalah tempat berfikir (Mrk : 2:6,8) dan tempat perasaan ( Luk : 24 :32). Demikian pula, dosa timbul dari hati dan pikiran ; sebab dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan , perzinahan, keserakahan, kejahatan , kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mark 7:21-22)..  Oleh karena itu, hati inilah yang dipengaruhi iblis, sehingga  liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu (Yer 17:9). Dalam Alkitab, hakekat hati manusia dimanifestasikan dengan segala sifat, jasmani, intelektual, dan jiwa sebagai suatu kesatuan,  sehingga hati adalah sebuah sinergi antara jiwa, akal budi dan kekuatan

 

      Oleh karena itu, sejak kita belajar dan mengetahui kebenaran firman Tuhan, tetapi kita memberi waktu diskusi dengan diri sendiri untuk mempertimbangkan melakukan atau tidak melakukan kebenaran itu, saat itulah iblis masuk dalam hati kita untuk memutar balikan kebenaran firman Tuhan. Hati  menjadi tujuan utama yang diserang iblis. Hati juga menjadi tujuan utama yang dibentuk Tuhan. Tuhan menyelidiki hati, menguji batin dan menjadikannya hati kita bersih melalui penyerahan diri dan ketaatan kita sebagai pelaku kebenaran firman Tuhan. Jagalah hati, jangan sampai terpikat dan terjerat rayuan iblis. Percayalah  janji Tuhan : orang yang suci hatinya akan melihat Allah, dan dapat memahami kasih Allah ( Mat :5 :8 ; Ef : 3 :17). 

Tuhan memberkati

 

 

24 Sep 2012 ,written by Siswanto S.N.
 

PERSEMBAHAN SULUNG

PERSEMBAHAN SULUNG

Oleh : Pnt. Yon Maryono

 

Pada saat kita menghadiri Ibadah peneguhan dan pemberkatan nikah di Gereja, sering kita dengar petugas pembawa doa persembahan memberikan kesempatan pertama kepada Pengantin untuk memberikan persembahan, yang disebut persembahan sulung, di kotak khusus yang telah disiapkan. Dalam Perjanjian Lama, dasar-dasar teologis mengenai persembahan sulung antara lain dapat dibaca dalam Kejadian 4:3-4, dimana Habel mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya ( bek-o-raw', bek-o-raw'  the firstling of man or beast; abstractly primogeniture: - birthright, firstborn (-ling).  Imamat 23:9-11, orang Israel membawa seberkas hasil pertama dari tuaian, dimana kata seberkas suatu indikasi tidak seluruhnya.  demikian juga dalam Ulangan 26:1-11, orang Israil membawa hasil pertama dari bumi yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Lebih luas,  dalam Amsal 3:9 tertulis muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.

Bentuk persembahan Sulung  dalam Perjanjian Lama meliputi : Persembahan korban hewan seperti anak domba sulung, hasil pertama pertanian, dan hasil pertama dari segala penghasilan. Tetapi, juga ada indikasi jumlah persembahan sulung “seberkas” dapat diartikan bukan seluruhnya. Dalam konteks ini, segala bentuk dan jumlah bukan masalah sebenarnya,  tetapi peristiwa yang mendasari atas persembahan tersebut adalah sangat penting, yaitu :

1.    Persembahan sulung menjadi simbol hasil terbaik sebagai tanda pengucapan syukur atas

pertolongan Tuhan.

2.    Pengakuan iman dengan segenap hati

3.    Mengakui Tuhan dalam segala hal  dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan

4.    Memuliakan Tuhan dengan harta

Karena landasan persembahan itulah, penilaian manusia sangat berbeda dengan penilaian Tuhan. Contoh kain yang persembahannya tidak berkenan kepada Allah dan Habel berkenan kepada Allah karena dasar, karakter dan sifat persembahan kepada Tuhan tergantung sikap hati. Dan Tuhan menaruh hormat kepada Habel  atas korban persembahannya itu, - tetapi tidak kepada Kain. Persembahan Habel didasarkan rasa syukur atas rahmat-Nya, dan diikuti dengan ketaatan kepada kehendak-Nya

Cara hidup seperti inilah yang dikehendaki Tuhan bagi orang Israil, yang mencerminkan ketergantungan manusia kepada Tuhan, Sang Sumber Kehidupan. Allah menghendaki agar mereka menjadi umat yang selalu mengingat pertolongan Tuhan dan sadar untuk mengucap syukur.  Karena Ia senantiasa mengasihi dan setia menjaga serta memelihara umat-Nya.

Pada saat Gereja memberikan kesempatan Persembahan sulung hanya pada saat pemberkatan dan peneguhan nikah gerejawi, maka terkesan persembahan ini sebagai persembahan sukarela. Akan lebih tidak bermakna apabila memasukan di kotak persembahan tanpa sikap hati yang jelas kepada Tuhan.  Tuhan tidak melihat nilainya tetapi Tuhan melihat sikap hati. Persembahan kepada Tuhan harus dipandang sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan pimpinan-Nya dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, segala bentuk persembahan berapapun besar nilainya apabila tidak didasari iman percaya kepada Tuhan, melalui penyerahan total rencana kehidupan tergantung kepada-Nya, dorongan ungkapan rasa syukur dengan sepenuh hati atas anugerah-Nya, maka timbul pertanyaan : Apakah tangan-tangan yang terulur menyerahkan persembahan itu,  mempersembahkan yang terbaik yang berkenan bagi Allah ?



PERBUATAN MURAH HATI PERLU LATIHAN.

Murah hati, Kemurah hatian , Kemurahan hati, Kemurahan hanyalah sebuah kata atau kata majemuk yang tidak berarti kalau hanya disebut dan diuraikan maknanya dalam Kamus Bahasa.  Kemurahan, bahasa Yunani: chrestotes, bahasa Latin: benignitas, bahasa Inggris: kindness, benignity artinya  perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap sesama dan  bersikap penuh rahmat. Alkitab menulis  kata terkait  murah hati ini cukup sering, seperti  dalam kitab Rut 2:2,  Nehemia 2:8 ; Yeremia 3:12 ; Mazmur 30:5 (30-6); Matius 5:7;  Matius 20:15 ; Lukas 6:36 ; Yakobus 1:5 ; 1 Korintus 13:4. Penulisan murah hati dalam Alkitab  intinya perbuatan  murah hati dilakukan oleh Tuhan dan maunusia, Lukas 6:36 menuliskan : Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.
Pesan alkitab sangat jelas, ada beberapa perbuatan, sikap yang mencerminkan  murah hati yang terakumulasi dalam sebuah tindakan nyata , yaitu :
·    Murah hati  tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan.
·  Murah hati berarti mau terlibat dalam penderitaan orang lain karena tak kuasa meninggalkannya.  
·   Murah hati itu  kesediaan untuk menerima dan memaafkan dan memulai dengan sebuah relasi yang baru dengan tidak memperhatikan latar belakang  yang dibayangi dendam, sakit hati atau luka batin lainnya. Inilah yang dimaknai bahwa murah hati selalu ada unsur pengampunan
·    Murah hati  adalah kasih yang ditunjukan dalam perbuatan
·    Murah hati tindakan tulus, tidak mengungkit-ungkit atas tindakan yang telah dilakukan untuk kepentingan sesama.
·    Murah hati adalah tindakan yang tidak didasari perbedaan ras, suku, agama bahkan politik atau kepentingan pribadi lainnya
·    Murah hati adalah respos atas anugerah keselamatan dari Tuhan
Pada saat orang Kristen setiap hari baca Alkitab, pergi ke Gereja , dan  berdoa tetapi tidak peduli terhadap orang yang membutuhkan disekitarnya, yakni  uluran kasih, pengharapan dan kebenaran Firman Allah,  Apakah mereka  Pelaku kebenaran firman Tuhan dalam perbuatan murah hati seperti teteladan Kristus  ? Jawabanya : mereka termasuk saya bukan pelaku kebenaran firman Tuhan. Kita mengenal Allah tetapi  tidak menuruti perintahnya. Kita telah berbuat  dosa, Ini jawaban yang jujur. Namun, jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa yaitu Yesus Kristus yang adil, Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita.  Selanjutnya : Barang siapa mengatakan bahwa ia ada didalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup  ( bdk  1 Yohanes 2 ayat 1).
Anda dan saya wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Paulus selalu mengibaratkan dirinya seorang atlit oleh raga yang harus selalu berlatih. Wajib hidup seperti Kristus diperlukan latihan yang terus menerus, demikian pula perbuatan murah hati. Kita mungkin tak punya banyak uang, tetapi kita dapat memberi diri kita dalam tenaga, pikiran, waktu dan hal-hal lainnya yang dapat meringankan beban penderitaan sesama. Selamat berlatih, Tuhan memberkati.

18 Sep 2012 ,written by Siswanto S.N.
 

Aku telah melihat Tuhan

 

Aku telah melihat Tuhan

Oleh : Pnt. Yon Maryono

 

Aku telah melihat Tuhan ? Benarkah aku dan engkau telah melihat Tuhan. Bukankah itu cerita dan pengalaman Maria kurang lebih 2000 tahun yang lalu !, Melihat Tuhan tetaplah menjadi pengalaman dia, bukan pengalaman saya. Tidaklah bisa menjadikan pengalaman Maria sebagai jawaban ketika  seorang bertanya : Apakah Saudara bisa membuktikan bahwa Tuhan bangkit ? Saya teringat  pertanyan yang sama di Pelajaran SD anak saya yang dijawab : Buktinya yaitu Tuhan menampakan kebangkitannya pada hari pertama Minggu subuh kepada Maria, dan Maria berkata : “Aku telah melihat Tuhan”.  Dan jawaban ini dinilai benar oleh Guru. Pengalaman itu sudah hampir dua ribu tahun yang lalu dijawabkan sekarang,dengan fasihnya diucapkan dibibir tanpa mengerti maknanya.

Gema Paskah dari jaman ke jaman menggaung demikian hebatnya. Tidak ada satupun manusia dibumi ini yang prosesi peristiwa kematiaanya dikenang sepanjang jaman dan meninggalkan pesan yang panjang dan menantang. Bahkan, gema paskah dalam liturgi terus dirayakan selama lima pekan berturut-turut. Sederetan acara dan perayaan Paskah, dimulai dari Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, kelihatan sedemikian pentingnya. Tetapi, peristiwa dalam peringatan itu dapat menjadi tidak bermakna sama dengan semua perayaan lainnya, tetap tinggal perayaan musiman, yang maknanya hilang serta merta bersama berakhirnya masa perayaan. Kita kembali hidup dalam kesibukan, pergumulan dan rutinitas hidup yang sering kita kehilangan arah sedang menuju kemana.

Apabila dipelajari melalui kisah tentang kebangkitan Yesus, khusunya kisah penampakan kepada Maria Magdalena (Yohanes 20:11-18). Dalam narasi Alkitab  telah dituliskan  bahwa Maria Magdalena adalah orang pertama yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Pengalamannya melihat Tuhan adalah pengalaman yang istimewa baginya: “Aku telah melihat Tuhan (ay.18b). Kalimat “aku melihat Tuhan”. adalah pernyataan yang tidak melulu suatu ungkapan suka cita tetapi suatu ungkapan yang sangat mendalam, terkait dengan perubahan hidup sejak pertama kali Maria berjumpa dengan Yesus. Sejak pertama kali berjumpa dengan Yesus, hidupnya mulai berubah, menjadi hidup baru yang terlepas dari rasukan  7 setan yang diusir oleh-Nya. Dan pilihan hidup Maria untuk mengikuti Yesus justru diteguhkan dengan pengalaman melihat Tuhan yang bangkit. Inilah pengharapan baru yang ditemukan Maria. Pernyataan “aku melihat Tuhan” akhirnya bukan melulu melihat sosok Yesus tapi memahami dan menemukan kebenaran bahwa perubahan hidup baru dalam Yesus mempunyai pengharapan yang tidak akan pernah sia-sia. Yah, iman percaya yang dipancarkan dalam perubahan hidup yang memampukan Maria melihat Tuhan

Apa bukti Yesus bangkit ?  tidak lain menunjukkan kepada orang bagaimana iman pada Yesus telah mengubah hidup kita. Sikap iman Maria yang telah mengubah hidupnya bisa menjadi sikap iman kita meskipun kita tidak melihat dengan kasat mata Kristus yang bangkit.  Jawaban “ Aku telah berubah hidup dalam Yesus yang telah bangkit”, inilah yang mesti kita berikan pada orang yang minta bukti bahwa Yesus telah bangkit. Pesan Paskah mengingatkan anak-anak Allah menerima tubuh dan darah Kristus, sehingga mereka kembali pada cara hidup yang kudus dan selalu siap diutus berbagi hidup bagi dunia. Merayakan Paskah tanpa perubahan hidup, itulah yang menyebabkan Paskah hanya sekedar serimonial belaka, atau perayaan rutin dari tahun ke tahun diperingati tanpa makna. Seharusnya paskah membawa perubahan hidup bagi orang yang berikrar percaya Yesus, untu hidup lebih maju mendekat segambar dan serupa dengan Kristus.

Semoga Paskah tetap mendarah daging dalam hidup kita, bukan sebuah perayaan musiman belaka. Dan semoga kita  tetap berjaga dan waspada untuk terus menggapai hidup Kudus untuk dapat tinggal bersama  Allah yang Kudus.  Percayalah kita akan melihat Tuhan jauh lebih sering dari yang pernah dilihat orang!

Tuhan memberkati kita semua.

 

11 May 2012 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Ketidak sempurnaan manusia

 

Ketidaksempurnaan manusia.

Oleh : Pnt. Maryono


Saya mengenal salah satu rekan yang sehari-harinya dikenal  berpenampilan jujur, sederhana akhirnya terseret kasus keuangan negara, ditahan, divonis yang akhirnya  menderita  dalam penjara. Saya mengenal rekan yang bergelar doktor, peneliti pengajar hukum pidana akhirnya juga terseret kasus serupa. Saya membaca dan menyaksikan pemilihan anggota KPU dinegeri  ini. Mereka  dipilih dari orang-orang yang terbaik dari seluruh negeri, baik dari lingkungan tokoh masyarakat,  akedemisi, dan birokrasi. Akhirnya sebagian dari mereka,  juga tidak tahan terhadap godaan duniawi. Meraka ditangkap dan ditahan karena urusan korupsi. Saya mengenal anggota parlemen yang katanya wakil  rakyat juga tidak hanya terseret makan uang rakyat tetapi juga masalah moral yang memalukan. Saya juga mendengar tokoh agama, pengkhotbah terseret masalah etika , moral, dan perzinahan.

Pertanyaannya adalah apakah mereka  tidak mengenal perzinahan itu adalah dosa menurut ajaran Agama. Apakah mereka  tidak mengetahui  makan uang atau menjarah kekayaan negara  yang bukan haknya adalah korupsi . Apakah mereka  tidak mengerti semua perbuatan itu disamping merusak tatanan kehidupan orang banyak juga merusak kepribadian   diri sendiri. Apakah mereka tidak mengerti bahwa perbuatannya  mengakibatkan  kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri dan kehilangan kepercayaan masyarakat yang mereka wakili. Apakah mereka tidak memahami ajaran kebenaran Tuhan , kalaupun mereka  mendapatkan kesenangan dengan cara mendustakan kebenaran, akhirnya mengantarkan ke kejahatan dan kebinasaan.

Keadaan manusia dalam ketidaksempurnaan adalah fakta kehidupan sebagai pelajaran yang berharga. Pertama, Pengetahuan manusia tidak menjamin manusia untuk berbuat baik dan benar dihadapan Tuhan. Tidak peduli seorang doktor yang mungkin penelitiannya masalah etika dan moral manusia. Tidak peduli seorang teolog atau pengkhotbah ulung yang selalu mengajarkan : jauhi dosa! Tidak peduli seorang tokoh yang menjadi panutan atau wakil masyarakat. Pengetahuan mereka pasti  cukup untuk dapat menilai mana perbuatan baik dan tidak, tetapi pengetahuan mereka gagal untuk menjamin kemenangan dorongan kebaikan melawan keburukan dalam dirinya. Kedua,    ketetapan hati  terhadap komitment. Mereka banyak berjanji untuk menyalurkan aspirasi masyarakat yang diwakili. Ada sebagian mereka punya komitment untuk bertobat. Yang lain, banyak kemauan untuk berbuat baik kepada sesama. Mereka yang pendeta punya kemauan untuk mengenalkan kebenaran Tuhan kepada umat-Nya. Ternyata mereka gagal mempertahankan ketetapan hatinya, oleh karena pertentangan kepentingan yang diemban, antara golongan dan masyarakat umumnya. Mereka gagal  karena kenikmatan duniawi yang ditawarkan. Mereka gagal dan menyerah karena kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. Ketiga,  Retorika, yang dalam konteks ini diartikan keterampilan berbahasa secara efektif; seni berpidato yg muluk-muluk dan bombastis. Mereka hidup dalam alam retorika. Ibarat mampu mendiagnosa masalah dengan cermat, mana yang baik dan tidak baik. Mereka mampu mengajarkan kebenaran tetapi tidak mampu melakukannya. Mereka mampu mendiagnosa penyakit tetapi  tidak mengetahui apa obatnya.

Dalam contoh-contoh tersebut diatas, ternyata bibit-bibit kebusukan atau kejahatan dalam diri manusia  mampu mendesak bahkan mematikan bibit-bibit kebenaran yang ada dalam dirinya. Ini ibarat manusia telah bunuh diri secara rohani. Rasul Paulus, seorang berpengetahuan dan ahli Taurat,  dalam Suratnya kepada jemaat di Roma telah membuka isi hatinya dan mengenal semuanya itu : “Sebab aku tahu, bahwa didalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat “ (Rm 7:18-19). Pengalaman hidupnya menunjukan pengetahuan, etika , bahkan pengajaran  agama (Hukum Taurat) tidak mampu menjamin manusia untuk tidak jatuh dalam perbuatan jahat. Begitulah akhirnya, ia hidup didalam Kristus, tak pernah terpisah dari-Nya. Hanya Yesus yang dipercaya merupakan  satu-satunya jalan yang mampu memberikan kekuatan kepadanya. Kitapun secara sadar atau tidak sadar telah masuk didalam lingkaran keadaan manusia  sebagaimana fakta kehidupan yang ada. Siapakah yang bisa selamatkan saya dan saudara ? Adakah ilah lain yang mampu menolong kita ? Tuhan Yesus memberkati.

 

 

05 Aug 2011 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 


Page 6 of 8