• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Menjaga Hati

SATUHARAPAN.COM – ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (Luk. 21:28). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya—mereka tidak perlu cemas dalam menyambut kedatangan-Nya, meski akhir zaman sering digambarkan sebagai kehancuran semesta.

 

Sesungguhnya, akhir zaman tidak melulu bicara soal kehancuran semesta, tetapi juga soal penyelamatan. Akhir zaman tak hanya bicara soal berakhirnya suatu zaman, tetapi juga dimulainya zaman baru. Inilah sumber penghiburan bagi setiap orang yang menyandarkan diri kepada Yesus Kristus.

 

Karena itu, hal terlogis ialah menyambut kedatangan-Nya! Lagi pula, pemazmur mengaku: ”Semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu…” (Mzm. 25:3). Mereka tidak akan dipermalukan atau kecewa karena Allah pasti menepati janji-Nya.

 

Akhir zaman, sekali lagi, tidak perlu dipandang sebagai peristiwa menakutkan, namun harus dipahami sumber penghiburan. Sebab, pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

 

Oleh karena itu, Sang Guru mengingatkan para murid-Nya untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya. Caranya: menjaga hati agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (Lih. Luk. 21:34-35). Setiap Kristen harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.Menjaga hati itu penting karena semua perasaan, entah baik maupun jahat, bersumber dari hati.

 

Yesus menggunakan kata ”sarat”. Artinya: jangan sampai hati kita dipenuhi hingga meluber hal-hal yang tak perlu. Sang Guru juga menekankan tiga hal yang sering menyarati hati: pesta pora, kemabukan, dan kepentingan duniawi. Ketiga hal itu bisa membuat manusia lengah.

 

Persoalannya, ya di sini, kita kadang lengah! Lengah karena terlalu sibuk. Lengah karena tak lagi memfokuskan diri pada yang terutama dalam hidup. Bagaimanapun, suasana pesta sering membuat orang tidak lagi waspada. Tak hanya pesta, terlalu berfokus pada persoalan hidup sendiri bisa membuat kita terlena.

 

Bisa dinalar, jika Yesus melanjutkannya dengan nasihat: ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk. 21:36).

 

Yoel M. Indrasmoro Menjaga Hati

 

SATUHARAPAN.COM – ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (Luk. 21:28). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya—mereka tidak perlu cemas dalam menyambut kedatangan-Nya, meski akhir zaman sering digambarkan sebagai kehancuran semesta.

 

Sesungguhnya, akhir zaman tidak melulu bicara soal kehancuran semesta, tetapi juga soal penyelamatan. Akhir zaman tak hanya bicara soal berakhirnya suatu zaman, tetapi juga dimulainya zaman baru. Inilah sumber penghiburan bagi setiap orang yang menyandarkan diri kepada Yesus Kristus.

 

Karena itu, hal terlogis ialah menyambut kedatangan-Nya! Lagi pula, pemazmur mengaku: ”Semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu…” (Mzm. 25:3). Mereka tidak akan dipermalukan atau kecewa karena Allah pasti menepati janji-Nya.

 

Akhir zaman, sekali lagi, tidak perlu dipandang sebagai peristiwa menakutkan, namun harus dipahami sumber penghiburan. Sebab, pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

 

Oleh karena itu, Sang Guru mengingatkan para murid-Nya untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya. Caranya: menjaga hati agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (Lih. Luk. 21:34-35). Setiap Kristen harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.Menjaga hati itu penting karena semua perasaan, entah baik maupun jahat, bersumber dari hati.

 

Yesus menggunakan kata ”sarat”. Artinya: jangan sampai hati kita dipenuhi hingga meluber hal-hal yang tak perlu. Sang Guru juga menekankan tiga hal yang sering menyarati hati: pesta pora, kemabukan, dan kepentingan duniawi. Ketiga hal itu bisa membuat manusia lengah.

 

Persoalannya, ya di sini, kita kadang lengah! Lengah karena terlalu sibuk. Lengah karena tak lagi memfokuskan diri pada yang terutama dalam hidup. Bagaimanapun, suasana pesta sering membuat orang tidak lagi waspada. Tak hanya pesta, terlalu berfokus pada persoalan hidup sendiri bisa membuat kita terlena.

 

Bisa dinalar, jika Yesus melanjutkannya dengan nasihat: ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk. 21:36).

 

Yoel M. Indrasmoro

28 Nov 2015 ,written by Nikimaserika
 

Muliakanlah Tuhan, Raja Pembawa Kebenaran

Raja adalah jabatan atau kedudukan yang diberikan kepada seseorang berdasarkan  turunan. Tidak ada orang yang bisa menjadi raja kalau tidak memiliki silsilah dari keluarga raja. Jabatan atau kedudukan raja sangat dekat dengan kekuasaan. Seorang raja adalah seorang penguasa, yang dihormati oleh rakyatnya. Semua rakyat harus tunduk dan patuh kepada raja. Untuk itu, siapa yang tidak ingin menjadi raja, yang bisa menjadi penguasa dan dihormati, semua perkataannya harus didengar dan dipatuhi.

Minggu ini adalah “Minggu Yesus Kristus, Tuhan, Raja Semesta Alam”. Minggu terakhir dalam kalender tahun gerejawi karena minggu depan, kita sudah memasuki Minggu Adven sebagai permulaan kalender tahun gerejawi. Pada minggu ini, kita diajak untuk menutup tahun gerejawi dengan mengingat dan senantiasa mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan Semesta Alam. Injil Yohanes 18:33-37 mengisahkan percakapan Pilatus dengan Yesus tentang kedudukan atau jabatan Yesus. Pertanyaan “Engkaukah raja orang Yahudi?”, mempertanyakan dari mana Yesus mendapat jabatan raja. Ia hanya anak seorang tukang kayu, jadi tidak mungkin menjadi raja. Pertanyaan tersebut juga bisa jadi muncul karena pada saat itu masih ada raja yang berkuasa. Jadi pertanyaan tersebut mengarah pada pertanyaan, apakah Yesus ingin menjadi penguasa dan berkuasa?

Jawaban Yesus menjelaskan bahwa Ia adalah Raja bukan untuk di dunia, Ia adalah Raja yang tidak ingin menjadi penguasa dan dihormati sebagaimana raja di dunia. Ia adalah Raja pemilik alam semesta ini. Kekuasaan-Nya bukan untuk menguasai tetapi untuk menjaga dan memelihara alam semesta beserta dengan segala makhluk ciptaan-Nya. Minggu ini kita diajak untuk menjadi raja-raja penerus Yesus Kristus. Artinya menjadi raja yang bukan untuk menguasai dan meminta penghormatan, tetapi menjadi raja yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga, memelihara dan mengasihi alam semesta beserta semua makhluk ciptaan-Nya. Bersyukurlah bahkan berbanggalah menjadi raja yang mampu sebagai raja yang rendah hati dan mengasihi.

 

Pdt. Neny Suprihartati

21 Nov 2015 ,written by Nikimaserika
 

Tetaplah Bercahaya Seperti Cahaya Cakrawala dan Bintang-bintang

“Yo prakanca, dolanan neng caba.

Padhang bulan, padhange kaya rina.

Rembulane e...sing awe-awe,

Ngelingake aja padha turu sore”

 

Apa yang saudara bayangkan ketika menyanyikan atau mendengar lagu tersebut? Keramaian anak-anak bermain dengan suasana suka cita, di luar rumah, di malam hari dan di bawah cahaya bulan purnama. Lagu ini menjadi ajakan kepada anak-anak untuk tidak melewati, tetapi justru menikmati cahaya bulan purnama. Suasana di desa yang menjadi sepi ketika kegelapan malam mulai turun. Belum ada listrik sehingga tidak ada hiburan televisi, hanya ada suara radio dan cahaya lampu-lampu minyak. Di luar rumah yang ada hanya kegelapan, sehingga ketika menjelang malam, anak-anak sudah masuk rumah. Untuk itulah, saat bulan purnama menjadi saat yang menggembirakan karena cahaya bulan purnama menerangi sekitar. Lagu ini mengajak untuk bermain di luar rumah karena cahaya bulan membuat suasana malam menjadi seperti siang. Bulan purnama memanggil anak-anak dan mengingatkan untuk tidak tidur sore.

Bagaimana dengan suasana kota Jakarta, yang malam hari sekali pun tetap saja diterangi dengan banyak lampu dan tetap ada keramaian? Bahkan ada orang yang senang menikmati kota Jakarta dimalam hari dengan lampu-lampu yang beraneka bentuk dan warna. Apakah lagu ini bisa dinyanyikan di kota Jakarta? Atau tidak di kota Jakarta, tetapi tetap di desa pada masa kini, yang sudah memiliki sarana listrik, ada hiburan televisi, bahkan anak-anak desa pun sudah mengenal teknologi dengan berbagai game melalui gadget. Apakah lagu ini masih dinikmati untuk dinyanyikan?

Sekalipun kota Jakarta atau kota-kota lain pada malam terang benderang dan tetap dipenuhi dengan keramaian; sekalipun desa-desa kini juga sudah terang pada malam hari dengan lampu listrik dan anak-anak lebih senang bermain di dalam rumah dengan segala fasilitas yang ada, tetapi cahaya bulan bahkan bulan purnama tetap bercahaya. Lampu minyak bisa hilang diganti dengan lampu listrik, hiburan permainan anak-anak di luar rumah bisa hilang berganti dengan permainan teknologi, tetapi cahaya bulan tidak akan pernah hilang dan berganti dengan apapun. Cahaya cakrawala, bulan dan bintang-bintang tidak akan pernah berkata “Kami sudah tidak dibutuhkan lagi, maka kami akan menghilang”. Ia tetap bercahaya menerangi suasana malam, sehingga ketika listrik padam, kita tetap mendapat terang dari cahayanya.

Tuhan berfirman kepada Daniel tentang akhir zaman. Akan ada kesesakan bangsa bagi bangsa-bangsa, ada yang terluput dan ada yang tidak. Orang-orang mati akan dibangkitkan, ada yang mendapat hidup kekal dan akan ada yang mengalami kehinaan dan kengerian (Dan 12:1-3). Dalam menghadapi situasi tersebut, orang-orang bijaksana akan tetap bercahaya seperti cahaya cakrawala dan orang-orang yang menuntun dalam kebenaran tetap akan bercahaya seperti bintang-bintang untuk selamanya. Yesus katakan, pada akhir zaman, batu-batu yang kokoh bahkan bangunan yang megah, akan runtuh dan tidak satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain (Mark.13:1-2). Dalam situasi tersebut, orang-orang percaya, janganlah gelisah (ay. 7a), tetapi seperti firman Tuhan kepada Daniel, tetaplah bercahaya.

Lagu “Padhang bulan” tetap dinyanyikan sampaikan kapan pun karena cahaya bulan purnama tidak akan hilang dan berganti dengan apa pun. Yesus juga menginginkan kita tetap bersinar dan bercahaya seperti cahaya cakrawala dan bintang-bintang, yang tidak akan hilang dan berganti.

 

Pdt. Neny Suprihartati

14 Nov 2015 ,written by Nikimaserika
 

Penyelenggaraan Ilahi

SATUHARAPAN.COM – Betapa besar perbedaan dua kelompok orang dalam bacaan Injil Minggu ini (Mrk. 12:38-44). Penginjil Markus tidak menyebut nama. Dia, mengutip perkataan Yesus, hanya menyebut ahli-ahli Taurat dan janda miskin.

 

Kita tidak pernah tahu secara pasti siapa ahli Taurat yang dimaksud, juga janda miskin itu. Kelihatannya, Sang Guru dari Nazaret hendak menekankan perbedaan sikap keberagamaan manusia.

 

Ahli Taurat dan Janda Miskin

 

Kelompok pertama terlihat rajin beribadah. Namun, Yesus mengkritik mereka: ”Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan...” (ay. 28-39).

 

Kata ”suka” yang dipakai Yesus agaknya menyiratkan bahwa Kegiatan agama itu dilakukan untuk menyenangkan diri, bahkan menjadi  kegemaran rutin. Ibadah menjadi hobi, sekadar pemuas emosi belaka.

 

Ibadah macam begini cenderung membuat orang jauh dari realitas. Bahkan, sikap hidup hariannya bisa sangat berbeda. Tengoklah catatan selanjutnya: ”Mereka menelan rumah janda-janda...” (ay. 40).

 

Lebih gawat lagi, mereka menjadikan ibadah sebagai topeng untuk menutupi semua kejahatan mereka. Yesus menyatakan: ”mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang.” (ay. 40).

 

Kelompok kedua—seorang janda—mempersembahkan seluruh nafkahnya kepada Tuhan. Kisahnya berkumandang hingga kini karena tindakannya unik. Begitu uniknya, hingga Yesus memujinya: ”Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk. 12:44).

 

Bagi janda tersebut, ibadah bukan hobi, pengisi waktu luang, atau sekadar pemuas emosi. Bagi dia, beribadah merupakan panggilan manusia sebagai hamba Allah. Kalau tidak beribadah, malah aneh karena mengingkari keberadaan diri.

 

Yang dilakukannya merupakan buah penghayatan diri sebagai hamba Allah. Karena itu, dia mempersembahkan seluruh nafkahnya. Mempersembahkan berarti memberi dalam sikap hati sembah.

 

Mungkin ada yang mencibir perbuatan janda itu: ”Miskin, kok sombong!” Tetapi, baginya ibadah memang bukan untuk mencari pujian. Sehingga dia tidak perlu merasa terluka seandainya ada orang mencemoohnya.

 

Janda miskin itu melakukannya karena harus melakukannya. Dia melakukannya dengan tulus tanpa pamrih. Sekali lagi, karena dia meyakini beribadah merupakan hakikat manusia!

 

Janda itu berbuat demikian karena percaya apa yang ada padanya—bahkan hidupnya sendiri—merupakan karunia Tuhan. Dia sanggup mempersembahkan seluruh nafkahnya karena dia memercayai Tuhan. Dia menyerahkan diri sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi.

 

Janda miskin itu—yang tidak kita ketahui namanya—agaknya meyakini ucapan pemazmur: ”Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya...” (Mzm. 127:1).

Yoel M. Indrasmoro

Penyelenggaraan Ilahi

 

SATUHARAPAN.COM – Betapa besar perbedaan dua kelompok orang dalam bacaan Injil Minggu ini (Mrk. 12:38-44). Penginjil Markus tidak menyebut nama. Dia, mengutip perkataan Yesus, hanya menyebut ahli-ahli Taurat dan janda miskin.

 

Kita tidak pernah tahu secara pasti siapa ahli Taurat yang dimaksud, juga janda miskin itu. Kelihatannya, Sang Guru dari Nazaret hendak menekankan perbedaan sikap keberagamaan manusia.

 

Ahli Taurat dan Janda Miskin

 

Kelompok pertama terlihat rajin beribadah. Namun, Yesus mengkritik mereka: ”Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan...” (ay. 28-39).

 

Kata ”suka” yang dipakai Yesus agaknya menyiratkan bahwa Kegiatan agama itu dilakukan untuk menyenangkan diri, bahkan menjadi  kegemaran rutin. Ibadah menjadi hobi, sekadar pemuas emosi belaka.

 

Ibadah macam begini cenderung membuat orang jauh dari realitas. Bahkan, sikap hidup hariannya bisa sangat berbeda. Tengoklah catatan selanjutnya: ”Mereka menelan rumah janda-janda...” (ay. 40).

 

Lebih gawat lagi, mereka menjadikan ibadah sebagai topeng untuk menutupi semua kejahatan mereka. Yesus menyatakan: ”mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang.” (ay. 40).

 

Kelompok kedua—seorang janda—mempersembahkan seluruh nafkahnya kepada Tuhan. Kisahnya berkumandang hingga kini karena tindakannya unik. Begitu uniknya, hingga Yesus memujinya: ”Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk. 12:44).

 

Bagi janda tersebut, ibadah bukan hobi, pengisi waktu luang, atau sekadar pemuas emosi. Bagi dia, beribadah merupakan panggilan manusia sebagai hamba Allah. Kalau tidak beribadah, malah aneh karena mengingkari keberadaan diri.

 

Yang dilakukannya merupakan buah penghayatan diri sebagai hamba Allah. Karena itu, dia mempersembahkan seluruh nafkahnya. Mempersembahkan berarti memberi dalam sikap hati sembah.

 

Mungkin ada yang mencibir perbuatan janda itu: ”Miskin, kok sombong!” Tetapi, baginya ibadah memang bukan untuk mencari pujian. Sehingga dia tidak perlu merasa terluka seandainya ada orang mencemoohnya.

 

Janda miskin itu melakukannya karena harus melakukannya. Dia melakukannya dengan tulus tanpa pamrih. Sekali lagi, karena dia meyakini beribadah merupakan hakikat manusia!

 

Janda itu berbuat demikian karena percaya apa yang ada padanya—bahkan hidupnya sendiri—merupakan karunia Tuhan. Dia sanggup mempersembahkan seluruh nafkahnya karena dia memercayai Tuhan. Dia menyerahkan diri sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi.

 

Janda miskin itu—yang tidak kita ketahui namanya—agaknya meyakini ucapan pemazmur: ”Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya...” (Mzm. 127:1).

 

Yoel M. Indrasmoro

07 Nov 2015 ,written by Nikimaserika
 

KELUARGA HIDUP MENURUT PERINTAH TUHAN

Apakah kata yang pertama kali diucapkan oleh seorang anak? Tentu berbeda-beda, bisa saja: papa, mama, mamam, dan lain-lain. Kata yang pertama kali diucapkan oleh seorang anak, tergantung dari orangtua atau orang terdekat, kata apakah yang sering diperkenalkan kepada si anak. Ada orangtua yang mengatakan bahwa anaknya senang sekali nonton film animasi. Padahal sebenarnya karena orangtuanya selalu memilihkan dan menyuguhkan film animasi untuk menjadi tontonan anaknya. Atau ada orangtua yang mengatakan anaknya tidak suka makan sayur. Sebenarnya, karena orangtuanya tidak pernah atau kurang sering memberi makan sayur kepada anaknya, atau makan bersama anaknya dengan memperlihatkan bahwa orangtua senang makan makan sayur. Anak yang tidak suka makan sayur, bisa jadi karena orangtuanya tidak suka makan sayur, sehingga anak tidak pernah melihat orangtuanya makan sayur.

 

Bagaimana anak usia dini bisa mengenal Tuhan? Atau bagaimana kita, sebagai orangtua, memperkenalkan Tuhan kepada anak usia dini? Atau sejak kapan orangtua memperkenalkan Tuhan kepada kepada anak? Tuhan mengajarkan kepada para orangtua, bagaimana dan sejak kapan memperkenalkan Tuhan kepada anak: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ul. 6:6-9). Tuhan mengatakan bahwa sejak anak itu ada, maka yang pertama kali diperkenalkan adalah Tuhan. Orangtua haruslah memperkenalkan Tuhan secara berulang-ulang dalam setiap kesempatan.  Pokok utama percakapan adalah memperkenalkan Tuhan.

 

Kita mendengar berita ada anak yang meninggal karena dianiaya oleh teman-temannya; ada yang  membakar temannya; ada yang memperkosa dan membunuh temannya, bahkan ada anak yang membunuh orangtuanya. Usia mereka masih usia kanak-kanak, tidak lebih dari 12 tahun. Lalu bagaimana dengan perkataan bahwa usia kanak-kanak adalah usia yang masih polos, jujur, bersih dan tulus? Mereka tidak takut melakukan semua itu, karena mereka tidak takut kepada Tuhan. Mereka tidak mengenal atau tidak diperkenalkan siapa Tuhan secara berulang-ulang, secara sungguh-sungguh, disetiap kesempatan dan dengan benar. Ketika mendengar respon  seorang ahli Taurat  terhadap perkataan Yesus tentang Hukum yang terutama, Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu (Mark. 12:34). Yesus melihat bahwa ahli Taurat itu sungguh mengenal Tuhan dengan baik dan benar sehingga ia paham dan menerima penjelasan Yesus, sekalipun sesungguhnya saat itu ahli Taurat dan orang Saduki sedang berusaha mencari kesalahan Yesus.  Kita diingatkan kembali akan tugas kita sebagai orangtua untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak kita secara berulang-ulang, secara sungguh-sungguh, dalam setiap kesempatan dan dengan benar. Agar anak-anak kita dan keluarga kita menjadi keluarga yang hidup menurut perintah Tuhan.

 

Pdt. Neny Suprihartati

31 Oct 2015 ,written by Nikimaserika
 


Page 6 of 20