• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Tangan Tuhan yang Atur Seg’nap.

”Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: ’Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’” (Rm. 4:18). Demikianlah catatan Paulus berkenaan dengan Abraham.

Mengapa Abraham percaya? Sejatinya itulah jalan terlogis. Bukankah Allah mahakuasa? Bukankah Abraham telah menjadikan Dia sebagai Tuannya? Dan jalan terlogis seorang hamba—yang memang tidak tahu hari depan—memang percaya penuh kepada Sang Tuan.

Lagi pula, bukankah itu juga yang diharapkan Abraham. Dia sungguh-sungguh mendambakan keturunan. Dan apa salahnya memercayai janji yang memang sangat diharapkannya. Terlebih, yang berjanji kepadanya bukanlah pribadi sembarangan. Allah sendirilah yang berjanji. Abraham  percaya bahwa Tuhan yang mengatur semuanya.

Penyair Stuart Hamblen, terjemahan K.P. Nugroho dan terekam dalam Nyanyikanlah Kidung Baru 48, menulis: ”Bila nampak olehku berjuta bintang di angkasa, ’ku tak faham yang dilukiskannya. Namun Tuhan Allahku yang menabur bintang itu, berencana di tiap karyanya. Hanya Dialah yang tahu ’kan segala rahasia, tiada ’ku takut ’kan kuasa gelap. Masa yang datang tak jelas, tapi ini t’rang bagiku: Tangan Tuhan yang atur seg’nap.”

Paulus mencatat: ”Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup” (Rm. 4:19). Abraham lebih berpegang pada janji Tuhan ketimbang realitas hidup. Meski dalam pandangan manusia serbamustahil—berkait umur yang makin lanjut, juga Sara telah menopause—Abraham tetap percaya. Dia memercayai Allah yang telah berjanji kepada-Nya.

Yoel M. Indrasmoro,                                                                                                                                                                                          diambil dari satuharapan.com

24 Feb 2018 ,written by nikimaserika
 

Janji Allah

”Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu... bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kej. 9:9-11).

Mengapa Allah berjanji? Bukankah Dia pencipta semesta? Mengapa Sang Pencipta yang harus berjanji kepada makhluk ciptaan-Nya? Bukankah seharusnya yang berjanji adalah manusia? Bukankah seharusnya manusia yang berjanji untuk tetap taat kepada Allah supaya tidak dihukum lagi?

Demikianlah kesaksian Alkitab. Jika memakai logika manusia, yang berjanji adalah pihak yang bersalah untuk tidak mengulangi lagi perbuatan mereka! Jika memakai logika manusia, maka akan ada sejumlah sanksi seandainya janji itu tidak ditepati. Dan biasanya, lagi-lagi jika logika manusia dikedepankan, sanksi itu akan lebih berat ketimbang hukuman sebelumnya.

Jika logika manusia yang dipakai, apa jadinya bumi ini! Lidah tak bertulang. Bahkan, ada ungkapan: janji itu dibuat untuk dilanggar! Jika manusia yang berjanji, mungkin peristiwa air bah akan sering berulang!

Syukurlah Allah yang berjanji! Perjanjian Allah itu semestinya memotivasi kita untuk tidak mengingkari janji yang kita buat sendiri. Itulah yang biasa disebut dengan komitmen atau keterikatan untuk melakukan sesuatu.  Dan dalam komitmen tersendiri tersirat sebuah tanggung jawab pribadi.

Dalam suratnya, Petrus menyatakan kepada umat: ”Baptisan ini bukanlah suatu upacara membersihkan badan dari semua yang kotor-kotor, melainkan merupakan janjimu kepada Allah dari hati nurani yang baik.” (1Ptr. 3:21). Baptisan merupakan janji!

Kristen berarti pengikut Kristus. Janji sebagai Kristen berarti berjanji untuk tetap mengikuti Kristus dalam situasi dan kondisi apa pun. Semuanya itu hanya mungkin kala kita mau dipimpin oleh Roh Allah. Sebagaimana Yesus Orang Nazaret—Allah yang menjadi manusia—setiap manusia dihadapkan pada pilihan: dipimpin Roh Allah atau Iblis.

Perhatikan catatan Markus: ”Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.” (Mrk. 1:12-13).

Yesus tak sudi dipimpin Iblis. Atas semua cobaan, Yesus hanya punya satu jawaban: tidak. Mengapa? Karena Dia memberi diri dipimpin Roh Allah.

Apakah kita bersedia dipimpin Roh Allah?

 

Yoel M. Indrasmoro,

diambil dari satuharapan.com

 

 

17 Feb 2018 ,written by nikimaserika
 

Dengarkanlah Dia!

”Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu” (2 Raj. 2:9). Demikianlah permohonan Elisa kepada Elia, Sang Guru. Elisa minta warisan yang biasanya diberikan secara hukum kepada putra sulung (lih. Ul. 21:17). Dalam Alkitab BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) tertera: ”Wariskanlah kuasa Bapak kepada saya, supaya saya dapat menjadi pengganti Bapak.”

Dalam permintaan Elisa itu tergambar jelas bahwa Elisa tidak merasa lebih hebat dari gurunya. Elisa ingin melanjutkan pelayanan yang telah dilakukan Sang Guru. Dia ingin memuliakan gurunya dengan jalan melanjutkan pekerjaan-Nya.

Itu jugalah yang seharusnya kita lakukan sebagai murid-murid Yesus. Kita dipanggil untuk terus memuliakan Yesus. Dan itu hanya akan terjadi ketika kita sungguh-sungguh melanjutkan pekerjaan Yesus di bumi ini.

Mungkinkah? Pasti mungkin! Caranya? Mulailah dengan mendengarkan Dia. Kita hanya mungkin menyatakan kemuliaan seseorang ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan-Nya. Ketika kita peduli dengan apa yang menjadi kehendak-Nya, maka pada saat itulah kita sungguh-sungguh memuliakan-Nya.

Kalimat perintah ”Dengarkanlah Dia!” (Mrk. 9:7) sungguh-sungguh harus kita taati. Bagaimana mungkin kita memuliakan Yesus, kalau kita nggak sungguh-sungguh mendengarkan-Nya?

Jika diperhatikan dengan cermat, maka semua pekerjaan Yesus Orang Nazaret berujung pada kemuliaan Allah Bapa. Dan itu jugalah yang ditegaskan oleh Paulus dalam surat kepada Jemaat di Korintus: ”Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor. 4:5). Itu jugalah yang semestinya dilakukan para murid Yesus abad XXI.

Sebagai contoh ketika bercakap-cakap dengan orang lain, siapakah yang kita beritakan atau tonjolkan? Diri sendiri atau Yesus Orang Nazaret? Dengan kata lain: Siapa yang kita muliakan? Diri sendiri atau Yesus Kristus?

Jika kita merayakan peristiwa ”Yesus dimuliakan di atas gunung” (Mrk. 9:2-9), maka menjadi panggilan kita pula untuk terus memuliakan-Nya. Dan itu hanya akan terjadi ketika kita sungguh-sungguh melanjutkan pekerjaan Yesus di bumi ini. Oleh karena itu, dengarkanlah Dia!

 

Yoel M. Indrasmoro,

diambil dari satuharapan.com

10 Feb 2018 ,written by nikimaserika
 

Pribadi yang Sibuk

”Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu” (Mrk. 1:32-33). Agaknya inilah tekanan penginjil Markus: Yesus adalah Pribadi yang Sibuk.

Hakikat Allah Bapa

Kelihatannya Yesus—Allah yang menjadi manusia—hendak memperlihatkan bahwa itu jugalah hakikat Allah Bapa: sibuk melayani umat-Nya.

Bertaburannya kata kerja yang dipakai Pemazmur—”membangun”, ”mengumpulkan”, ”menyembuhkan”, ”membalut”, ”menentukan”, ”menyebut”, ”menegakkan”, ”merendahkan”, ”menutupi”, ”menyediakan”, ”membuat”, ”memberi makanan” (Mzm. 147)—menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang sibuk melayani ciptaan-Nya.

Lelahkah Yesus? Jawabnya tentu saja! Yesus adalah manusia sejati. Dia bukan superman. Dan karena itu Dia lelah.

Rahasia di Balik Kesibukan Yesus

Akan tetapi, inilah rahasianya: semua pelayanan itu bersumber pada hubungan-Nya dengan Bapa. Markus mencatat: ”Keesokan harinya, waktu masih subuh, Yesus bangun lalu meninggalkan rumah. Ia pergi ke tempat yang sunyi di luar kota, dan berdoa di sana” (Mrk. 1:35, BIMK).

Kesibukan tidak membuat Sang Anak melupakan Bapa-Nya. Kesibukan justru mendorong Dia lebih intens dalam persekutuan dengan Bapa.

Ini mungkin persoalan banyak orang: mengira Allah sungguh maklum dengan kesibukannya. Akhirnya mereka menjadi lelah sendiri dan kehilangan orientasi. Ujung-ujungnya perasaan hampa.

Kesibukan bisa mendorong manusia hanya berorientasi pada hasil. Untuk hal macam begini, Bunda Teresa punya nasihat: ”Kita tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi untuk setia”. Dan itu hanya mungkin terjadi dalam persekutuan dengan Allah.

Itulah yang dilakukan Sang Anak. Demam penyembuhan telah melanda Kota Kapernaum. Seusai hiruk pikuk dan urusan dengan orang banyak, Yesus mencari tempat sepi untuk merenungkan kehendak Bapa terhadap diri-Nya. Kesimpulannya: tak perlu lama-lama di Kapernaum. Kota-kota lain juga perlu disapa karena itulah maksud kedatangan-Nya!

Bagaimana dengan Kita?

Kita boleh sibuk, tetapi jangan larut! Terlalu sibuk hanya akan membuat kita lupa apa yang terpenting dalam hidup!

Terlalu sibuk juga dapat menjerumuskan kita pada pengandalan diri sendiri. Hudson Taylor, misionaris di Cina dan pendiri OMF mengatakan: ”Kalau kita bekerja, kita bekerja; tetapi kalau kita berdoa, Tuhan [turut] bekerja.” Terlalu sibuk, justru harus berdoa!

Yesaya bernubuat: ”orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes. 40:30-31). Yesaya tidak menubuatkan bahwa orang-orang yang mengandalkan Tuhan itu tidak akan menjadi lelah. Tidak. Tetapi, mereka mendapat kekuatan baru, atau mendapat kesegaran baru.

Dengan kata lain, jangan hanya andalkan diri sendiri” Itu akan membawa kita pada kesombongan pribadi. Hanya orang yang tinggi hatilah yang bisa jatuh. Dan akhirnya frustasi karena manusia memang bukan superman.

Yoel M. Indrasmoro, diambil dari satuharapan.com

03 Feb 2018 ,written by nikimaserika
 

Terlibat Dalam Karya Kemuliaan Allah

Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalannya dan mengikuti Dia.  (Mark. 1:17-18)

Sebagai orang percaya, kita senantiasa diingatkan dan diajak untuk selalu fokus pada paradigma atau dasar pemahaman; bahwa Allah yang mengundang/memanggil ingin agar kita menemukan keyakinan atau iman percaya. Dan dengan keyakinan tersebut kita menjalani hidup melaksanakan  tugas panggilan sebagai orang percaya. Ini adalah dasar pemahaman akan panggilan-Nya untuk kita terlibat dalam karya kemuliaan Allah. Dan itu pulalah maksud dan tujuan Tuhan Yesus memanggil para murid yang pertama (Mark. 1:14-20).

Kita bisa memperhatikan dan melihat lebih jelas hal tersebut -setelah para murid atau kita menemukan keyakinan- pada apa yang pernah Tuhan Yesus sampaikan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ..., dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. ..."  (Lih. Mat.28 :19-20a) Juga penulis Injil Yohanes menyaksikan perkataan-Nya, “Kamu adalah sahabat-Ku,... Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku ... Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap”(Yoh.15:14-16)

Pertanyaannya dan permasalahannya adalah sejauh mana kita merespon dan terlibat dalam panggilan tersebut? Dan apakah masalah yang sering menjadi hambatan untuk terlibat dan bertumbuh dalam keterlibatan tersebut dari waktu ke waktu senantiasa kita sadari? Hal ini penting agar kita bisa menyelaraskan keterlibatan kita tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan Alkitab kita saat ini menolong dan menyaksikan pengalaman seorang Nabi Yunus (Yun. 3:1-10). Untuk pertobatan dan kebaikan serta keselamatan orang-orang Ninewe, Allah memberi tugas kepada Nuh untuk menyampaikan berita penghukuman Allah kepada orang-orang Ninewe.  Kepedulian Allah pada Ninewe tanda bahwa Allah mengasihi bukan hanya umat pilihan, Israel saja  -dimana Yunus berbangsa-, melainkan bangsa lain juga Allah kasihi. Allah ingin hadirnya kebaikan dan keselamatan pada bangsa-bangsa lain termasuk Ibukota Asyur itu. Sementara secara politik Israel dan Ninewe (Asyur) sedang bermusuhan. Kondisi ini membuat Yunus takut dan melarikan diri ke Tarsus (Yun. 1). Gagal fokus, karena takut. Gagal menjalankan tugas tidak terlibat dalam karya-Nya yang mulia itu. Situasi tidak nyaman kadang menjadi hambatan dalam menjalankan tugas panggilan, untuk terlibat dalam karya-Nya. Dalam melaksanakan tugas panggilan, sering tidak disadari bahwa popularitas, kekuasaan dan jabatan juga bisa membuat gagal fokus.

Hal lain, Allah tidak terbatas pada keadaan manusia dan kelemahannya untuk menyatakan karya penyelamatan-Nya. Ia tetap mau memakai Yunus untuk melaksanakan tugas panggilan, misi Allah tersebut. Dan seruan tentang hukuman yang akan Allah jatuhkan itu, ternyata membuat orang-orang Ninewe menyesal dan bertobat. Perubahan transformatif orang-orang Ninewe dari perilaku jahatnya ke penyesalan dan pertobatan itu tentu hal yang baik dan menggembirakan. Tetapi tidak serta merta dengan Yunus.  Nampaknya dalam hati Yunus berbicara bahwa hukuman itu betul-betul akan terjadi pada musuhnya. Yunus berpikir bahwa Allah hanya Allah Israel (pemikiran eksklusif) saja. Ini terjadi karena hati Yunus diliputi suasana politik, permusuhan, kebencian, ingin akan kehancuran musuh (orang lain). Paulus membahaskan pada jemaat di Korintus, itulah hati yang diikat kuasa dunia. Memandang, memahami dan  menerima serta melaksanakan kehendak-Nya dengan tulus menjadikan keterlibatan kita semakin membangun dan menguatkan keyakinan kita.

Mari terlibat dalam karya kemuliaan-Nya dengan tulus, menjala manusia secara tepat, Tuhan memberkati. Amin.

Pdt. Hosea Sudarna


Korintus 8:1-13; Markus 1:21-28


 

..., dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. ..." (Lih. Mat.28 :19-20a) Juga penulis Injil Yohanes menyaksikan perkataan-Nya, Kamu adalah sahabat-Ku,... Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku ... Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap(Yoh.15:14-16)

Pertanyaannya dan permasalahannya adalah sejauh mana kita merespon dan terlibat dalam panggilan tersebut? Dan apakah masalah yang sering menjadi hambatan untuk terlibat dan bertumbuh dalam keterlibatan tersebut dari waktu ke waktu senantiasa kita sadari? Hal ini penting agar kita bisa menyelaraskan keterlibatan kita tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan Alkitab kita saat ini menolong dan menyaksikan pengalaman seorang Nabi Yunus (Yun. 3:1-10). Untuk pertobatan dan kebaikan serta keselamatan orang-orang Ninewe, Allah memberi tugas kepada Nuh untuk menyampaikan berita penghukuman Allah kepada orang-orang Ninewe.  Kepedulian Allah pada Ninewe tanda bahwa Allah mengasihi bukan hanya umat pilihan, Israel saja  -dimana Yunus berbangsa-, melainkan bangsa lain juga Allah kasihi. Allah ingin hadirnya kebaikan dan keselamatan pada bangsa-bangsa lain termasuk Ibukota Asyur itu. Sementara secara politik Israel dan Ninewe (Asyur) sedang bermusuhan. Kondisi ini membuat Yunus takut dan melarikan diri ke Tarsus (Yun. 1). Gagal fokus, karena takut. Gagal menjalankan tugas tidak terlibat dalam karya-Nya yang mulia itu. Situasi tidak nyaman kadang menjadi hambatan dalam menjalankan tugas panggilan, untuk terlibat dalam karya-Nya. Dalam melaksanakan tugas panggilan, sering tidak disadari bahwa popularitas, kekuasaan dan jabatan juga bisa membuat gagal fokus.

Hal lain, Allah tidak terbatas pada keadaan manusia dan kelemahannya untuk menyatakan karya penyelamatan-Nya. Ia tetap mau memakai Yunus untuk melaksanakan tugas panggilan, misi Allah tersebut. Dan seruan tentang hukuman yang akan Allah jatuhkan itu, ternyata membuat orang-orang Ninewe menyesal dan bertobat. Perubahan transformatif orang-orang Ninewe dari perilaku jahatnya ke penyesalan dan pertobatan itu tentu hal yang baik dan menggembirakan. Tetapi tidak serta merta dengan Yunus.  Nampaknya dalam hati Yunus berbicara bahwa hukuman itu betul-betul akan terjadi pada musuhnya. Yunus berpikir bahwa Allah hanya Allah Israel (pemikiran eksklusif) saja. Ini terjadi karena hati Yunus diliputi suasana politik, permusuhan, kebencian, ingin akan kehancuran musuh (orang lain). Paulus membahaskan pada jemaat di Korintus, itulah hati yang diikat kuasa dunia. Memandang, memahami dan  menerima serta melaksanakan kehendak-Nya dengan tulus menjadikan keterlibatan kita semakin membangun dan menguatkan keyakinan kita.

Mari terlibat dalam karya kemuliaan-Nya dengan tulus, menjala manusia secara tepat, Tuhan memberkati. Amin.

Pdt. Hosea Sudarna


20 Jan 2018 ,written by nikimaserika
 


Page 1 of 34