Khotbah

  • Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Gembala Baik Memberi Hidup

“  Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,  dan Aku memberikan hidup yang kekal...” (Yoh. 10:27-28)

 

Karya atau campur tangan Tuhan sering dihubungkan dengan berkat-berkat yang diterima seseorang, kelimpahan dan kemudahan hidup. Atau orang akan mengatakan kalau hidup seseorang dapat berjalan dengan lancar tanpa ada kesulitan atau hambatan itulah karya Tuhan. Akan tetapi saat seseorang mengalami kesulitan dan penderitaan sering dipahami, Tuhan tidak berkarya; atau bahkan itu terjadi karena Tuhan menghukum. Benarkah demikian?

 

Jika demikian adanya, akankah membuat seseorang (kita)  semakin baik dan memiliki hidup? Tidak. Hidup frustasi, tidak percaya lagi dan jauh dari Tuhan, apakah yang hendak disaksikan, jika dirasa Tuhan tidak berkarya? Akankah mereka bertutur dan menyaksikan, Tuhan adalah Gembalanya? Ia Gembala yang baik dan memberi hidup? Seperti halnya pemazmur dalam Maz. 23? Atau justru akan bersikap seperti orang-orang Yahudi, mereka berada didekat Tuhan Yesus,  tetapi sikap  yang mereka nyataka, ucapan yang mereka sampaikan, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." (Yoh. 10:24)  Inilah yang terjadi.

 

Dengan ungkapan tersebut mereka tampak seperti orang-orang yang belum pernah tahu atau melihat, apa yang Yesus sudah ajarkan dan kerjakan. Bahkan Yesus sudah pernah mengatakannya pun mereka tidak percaya. (Yoh.10:25)  Karya-karya yang Tuhan Yesus telah perbuat pun mereka juga tidak percaya. Berbagai bentuk telah Tuhan Yesus lakukan dan nyatakan - sebagai yang akan menuntun dan memberikan kehidupan – sebagai Gembala yang baik, akan tetapi mereka abaikan, mereka tidak percaya. Mereka tidak termasuk Domba-domba-Nya. Ini bukan berarti dari semula mereka ditentukan tidak menjadi domba-Nya. Bukan. Mereka tidak masuk domba-Nya karena:

 

Pertama, domba identik dengan MENDENGARKAN  suara Sang Gembala. Dengan mendengarkan domba akan mengetahui dan memperhatikan apa yang disampaikan Sang Gembala, serta mendapatkan arahan sebagai bentuk penjagaan.

 

Kedua, domba identik dengan MEMBERI DIRI DIKENAL oleh Sang Gembala. Domba yang terbuka untuk dikenal dan dipahami membuat Sang Gembala memberikan kebutuhan yang pas untuk kebaikan dan kehidupan domba tersebut.

 

Ketiga, domba identik dengan PENGIKUT SANG GEMBALA. Jika ia tidak mengikut Gembalanya maka ia akan lepas dari kawanan domba yang mengikut Gembala.  Domba yang mengikutnya, senantiasa dekat dengan Sang Gembala. Kedekatannya (keintiman domba dengan Sang Gembala) membangun dan memperkokoh kepercayaan atau trust domba tersebut terhadap Sang Gembala.

 

Dan yang keempat, dengan ketiga hal diatas, domba identik dengan terpelihara dan terjaga serta sebagai yang beroleh HIDUP, bahkan tidak binasa selama-lamanya. Hidup Kekal.

 

Itu sebabnya, Yesus menyampaikan, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,  dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya... ” (Yoh.10:27-28).   Sungguhkah kita domba-domba-Nya? Amin

 

Doa : Ya Tuhan, dengan senantiasa mendengarkan Firman-Mu, biarlah kami terbuka terhadap Engkai dan semakin setia mengikut-Mu. Amin

Pdt. Hosea Sudarna

16 Apr 2016 ,written by Nikimaserika
 

Kasih Merubah Segalanya

“ ...Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."  (Yoh. 21:15)

 

Sebuah tanya mengandung tenaga, mengubah duka menjadi sukacita, mengubah sesal menjadi kekuatan yang menyalakan kesungguhan. Demikian Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus.

Pemazmur bertutur, “... tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Maz. 103 :11-13) Inilah pengalaman Pemazmur (Daud) dengan kasih Allah yang besar.  Ia percaya, merespon dan menanggapi hal itu bahkan dengan pertobatannya.

Hal senada terjadi dengan pengalaman bangsa Israel. Kitab Amos dan Hosea menyaksikan kebobrokkan umat Israel, bahkan sangat mengesalkan.  Namun Tuhan tetap menyatakan kasih-Nya yang besar pada bangsa itu, “... Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak.  Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim ..., dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” (Hos. 11:8,9)  Demikian juga Yesaya memberitakan, “... Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yes. 1:18).

Pertanyaannya, apakah umat atau kita menanggapi, merespon ketika kasih yang besar itu ditawarkan? Ketika tanya atau pergumulan itu memuat kasih yang besar dan siap merubah segalanya? Apakah kita bersikap seperti halnya Daud/Pemazmur?

Yohanes di dalam kitab Injil menyaksikan pengalaman Petrus. Lukas dalam Kisah Rasul menyaksikan pengalaman Paulus. Petrus dengan sungguh merespon dengan segenap hatinya, “ ... Benar Tuhan, Engkau tahu, ...” Sebuah respon kebenaran bahkan dalam kerendahan hati, Engkau tahu, bukan kesombongan.  Pertanyaan yang disampaikan Tuhan Yesus kepada Petrus adalah kuasa kebangkitan yang melengkapi kasih-Nya yang besar (dalam pengorbanan-Nya di kayu salib). Pertanyaan, “apakah engkau mengasihi Aku ...? ” mengandung makna pengampunan sekaligus pengukuhan kembali (setelah penyangkalan Petrus) akan pengutusan Tuhan Yesus kepada Petrus. Pengukuhan kepercayaan yang Tuhan Yesus berkenan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku”.

Demikian juga yang terjadi dengan Paulus, Tuhan Yesus dengan kasih-Nya yang besar mengubah kejahatan menjadi alat-Nya yang menyalurkan berkat. Kasih-Nya mengubah karakter penganiaya menjadi penanggung derita dan aniaya, dari penganiaya menjadi pelayan-Nya. Kasih-Nya juga mengubah mata yang buta, gelap menjadi terang dan jelas memandang dengan benar. Inilah kesaksian Lukas akan Paulus (Kesaksian Lukas).

Mother Teresa menyampaikan, “Where there is a great love, there are always miracles” (Di mana ada cinta yang besar, di sana selalu ada mujizat).  Bagaimana dengan hidup saudara? Amin.

 

Doa : Tuhan, tumbuh dan kembangkan dalam hidup kami kasih yang besar itu. Amin

 

Pdt. Hosea Sudarna

09 Apr 2016 ,written by Nikimaserika
 

Setia Bersaksi

"Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. ... kami adalah saksi ...,

kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia."

(Kis. 5:29-32)

Tuhan telah mengaruniakan kepada kita hidup, hati, pikiran dan berbagai macam anggota tubuh. Akankah dengan kuat kuasa Roh Kudus semua itu telah menjadi kesaksian tentang karya penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus? Akankah itu menolong (memerderkakan dan membebaskan) untuk kemudian berpikir sehat dan positif, seperti Gamaliel?

Penampakan Tuhan Yesus kepada para murid sungguh menguatkan iman percaya mereka kepada Yesus Sang Mesias. Bahkan karya Roh Kudus dalam kehidupan para murid mendorong dan menguatkan mereka untuk menyaksikan karya Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan pengalaman mereka hidup bersamaNya. Sebagaiman perintah atau pesan pengutusan yang Tuhan Yesus sampaikan, “ ...  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis.1:8)

Kesetiaan dalam bersaksi cukupkah dengan beriman saja? Mengerti dan paham bahwa Allah telah menjadi manusia dalam Tuhan Yesus Kristus. Ia telah menyatakan karya penyelamatan dengan mengajar, melayani, mengorbankan dan merendahkan diriNya sampai mati, bahkan mati di kayu salib (menanggung hukuman berat, yang mestinya ditanggung manusia). Kemudian Ia bangkit dari antara orang mati (mengalahkan/menang atas kuasa maut), dimuliakan sebagai yang berkuasa di sorga dan di bumi. (Mat. 28:18) Memahami dan mengimani hal itu saja? Lukas dengan kesaksiannya dalam Kisah Para Rasul ingin menyampaikan, bahwa kesetiaan dalam bersaksi adalah total; artinya bersaksi dengan seluruh kehidupannya, kapanpun dan di mana saja.

Petrus dan para murid yang lainnya dengan pengalaman mereka di depan Persidangan Mahkamah Agama menyaksikan hal tersebut. Karena imannya, Petrus (dan murid lainnya) dengan hati, pikiran dan mulutnya, menyampaikan: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. ...” (ay.29)

Selesai menghadapi persidangan mereka mendapatkan ancaman pembunuhan. (ay.33). Mereka juga dengan setia menyaksikan imannya dengan tubuhnya, mereka dikeluarkan dari persidangan dengan disesah dan tetap dilarang mengajar dalam nama Yesus. (ay.40) Situasi yang tidak mendukung untuk menyaksikan kabar baik tentang Yesus Kristus (dengan iman dan perbuatan) sering juga kita alami. Hal lain yg juga Lukas saksikan adalah, bahwa dengan kuat kuasa Roh Kudus yang Tuhan Yesus hembuskan, mereka menerima tantangan dan kesusahan dengan gembira. Mereka menjadikan pengalaman itu sebagai yang dilayakkan menderita karena Nama Yesus. (ay.41)

Bagaimana dengan kita yang lebih berbahagia dari para murid, sebab Tuhan Yesus telah berfirman,  “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”(Yoh. 20:29b) ? Amin.

Doa :Tuhan, bersama iman, hati pikiran dan tubuh serta dengan kuat kuasa Roh Kudus kami semakin setia bersaksi. Amin”

 

Pdt. Hosea Sudarna

02 Apr 2016 ,written by Nikimaserika
 

Pemberian Terbaik

SATUHARAPAN.COM – Kisah Jumat Agung adalah kisah ”Pemberian Terbaik”. Dia yang tersalin tak dapat melakukan apa-apa lagi. Tetapi, inilah pemberian terbaik itu: Dia menuntaskan misi-Nya. Yesus Orang Nazaret menyelesaikan tugas-Nya.

Betapa sering sesuatu begitu mudahnya dimulai, tetapi tak kunjung selesai. Sehingga menyelesaikan tugas merupakan prestasi. Ya, sudah selesai! Proses selama 33 tahun—sejak Natal itu pun tuntas! Sudah selesai. Wis rampung!

Kisah Yusuf dari Arimatea

Kisah pemberian terbaik itu menular. Yusuf dari Arimatea tiba-tiba muncul di permukaan. Dia meminta izin kepada Pilatus untuk menurunkan Yesus dari salib dan menguburkannya. Tindakan yang berisiko. Sebab dengan begitu dia telah menyatakan diri kepada umum bahwa dia adalah pengikut dari Sang Penjahat dari Nazaret.

Yusuf dari Arimatea agaknya orang kaya. Pada masa itu tak sedikit orang yang memberi tanah makam di Yerusalem karena memang banyak orang Israel berniat dikuburkan di Yerusalem, ibu kota kerajaan Israel. Sepertinya, Yusuf dari Arimatea pun telah menyiapkan kubur bagi dirinya sendiri.

Namun, inilah pemberian yang terbaik itu: kubur yang telah disiapkan bagi dirinya sendiri itu—kubur yang belum pernah dipakai orang—diberikan kepada Yesus Orang Nazaret. Inilah pemberian terbaik itu. Ukuran terbaik di sini adalah apa yang terbaik untuk standar dirinya, serbakelas satu! Dan itulah yang diberikan kepada Yesus. Dia tidak itung-itungan.

Kisah Nikodemus

Pemberian terbaik juga diberikan Nikodemus.  Penulis Injil Yohanes mengingatkan pembacanya bahwa Nikodemus adalah orang farisi, seorang anggota mahkamah agama, yang datang pada waktu malam untuk bercakap-cakap dengan Yesus.

Dan sekarang dia tidak datang pada waktu malam, tetapi secara terus terang dia bersama Yusuf dari Arimatea meminta jenasah Yesus untuk dikuburkan. Ini memang bukan tanpa risiko. Dan Nikodemus bersedia mengambil risiko itu: menjadi sahabat dari musuh no. 1 masyarakat saat itu.

Tak hanya itu, Nikodemus membawa ramuan mur dan gaharu—seluruhnya kira-kira tiga puluh kilogram banyaknya. Ramuan mur dan gaharu yang dibawa tidaklah sedikit. Jika kita hargai Rp 500 ribu per kilogram saja, maka butuh dana Rp 15 juta untuk memuliakan tubuh Yesus. Bukan jumlah sedikit. Tetapi, agaknya Nikodemus sudah menyiapkan diri untuk memberikan yang terbaik. Sama seperti Yusuf dari Arimatea, dia pun tidak itung-itungan lagi.

Kisah kita?

Kisah Jumat Agung adalah kisah pemberian terbaik: kisah Yesus, kisah Yusuf dari Arimatea, juga kisah Nikodemus. Semua memberikan yang terbaik dari apa yang dapat diberikan! Bagaimana dengan kita?

Dalam Kidung Jemaat 169 ”Memandang Salib Rajaku”, Isaac Watts menulis: ”Andaikan jagad milikku dan kuserahkan pada-Nya, tak cukup bagi Tuhanku diriku yang diminta-Nya.”

Tuhan ingin diri kita seutuhnya: tubuh kita, pikiran kita, hati kita, kekuatan kita. Itulah pemberian terbaik yang bisa kita berikan. Maukah kita?

 

Yoel M Indrasmoro

26 Mar 2016 ,written by Nikimaserika
 

Pemenuhan atau Pengosongan Diri?

SATUHARAPAN.COM – ”Terpujilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38). Demikianlah catatan Lukas mengenai seruan orang banyak itu ketika Yesus memasuki Yerusalem.

 

Menurut Stefan Leks, para murid memahami Yesus sebagai manusia ilahi. Damai yang dibawa Yesus adalah damai ilahi, damai sejati. Damai sejahtera di sini searti dengan penyelamatan dari Allah.

 

Dan itulah sesungguhnya yang ditawarkan Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem. Yesus menawarkan keselamatan. Yesus sanggup memberikan keselamatan karena Dia merupakan Sumber Keselamatan itu sendiri. Dia adalah Juruselamat! Caranya memang unik: Allah menjadi manusia dan mati di kayu salib (Flp. 2:6-8).

 

Keselamatan itu terjadi ketika Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankannya. Persoalan terbesar manusia, yang membuatnya jauh dari rasa selamat atau sejahtera ialah karena mati-matian mempertahankan hak!

 

Keselamatan itu terjadi ketika Yesus mengosongkan diri! Pada kenyataannya, rasa damai akan mengalir dalam hidup kita ketika kita berupaya untuk mengosongkan diri dan bukan memenuhi diri dengan segala sesuatu.

 

Logis memang, betapa sering perasaan ingin memenuhi diri dengan segala sesuatu malah akan membuat kita resah sebelum sungguh-sungguh mendapatkannya. Bagaimana perasaan Saudara ketika belum mendapatkan apa yang Saudara inginkan? Cemas bukan? Bahkan, perasaan khawatir menguasai sebelum mendapatkannya. Dan karena perasaan ingin mendapatkan segala sesuatu sering kali membuat manusia jatuh ke dalam pencobaan. Sekali lagi karena ingin memenuhi diri dengan segala sesuatu.

 

Josemaria Escriva, pendiri Opus Dei, dalam bukunya Jalan, menulis: ”Lepaskanlah dirimu dari segala makhluk ciptaan di dunia ini hingga engkau benar-benar terbebas dari ikatannya. Sebab setan, demikian ujar Sri Paus St. Gregorius, tidak memiliki apa-apa di dunia ini dan dia maju ke medan pertempuran dalam keadaan telanjang. Jika engkau dengan ”mengenakan segala pakaian duniawi” berperang melawan setan, maka engkau akan segera tersungkur ke tanah, sebab engkau mengenakan sesuatu yang dapat dicengkram olehnya.” Pengosongan diri merupakan jalan untuk hidup dalam keselamatan.

 

Keselamatan itu terjadi ketika Yesus taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dan ketaatan itulah yang dinubuatkan Yesaya (Yes. 50:4-9a). Lazimnya, rasa damai sejahtera akan mengalir dalam diri orang yang menjalankan laku ketaatan. Pelanggaran akan aturanlah yang membuat orang selalu gelisah—gelisah karena takut ketahuan. Dan Yesus taat, taat seperti seorang murid. Menarik diperhatikan bahwa kata discipline (disiplin) dekat dengan disciple (murid).

 

Jika pada Minggu Palma ini kita berteriak bersama dengan para murid—Berilah Keselamatan; maka kita hanya akan mendapatkannya kalau belajar untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp. 2:5)

 

Yoel M. Indrasmoro

19 Mar 2016 ,written by Nikimaserika
 


Page 1 of 18