Khotbah

  • Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Menurut Keperluannya

Banyak orang tergoda menjadi serakah. Bukan mengutamakan kebutuhan,
melainkan keinginan.

SATUHARAPAN.COM – Kemerdekaan ternyata tidak melepaskan Israel dari masalah. Kemerdekaan membawa konsekuensi baru. Mereka memang telah merdeka dari Mesir, dan sekarang mereka sedang menuju Kanaan. Itu berarti mereka harus mencukupi segala sesuatunya sendiri. Dan pada saat itulah masalah demi masalah mulai dirasakan.

Kemerdekaan bukanlah berarti lepas dari masalah. Para Bapak, juga Ibu, Bangsa Indonesia paham akan hal itu. Dalam pembukaan UUD’45 mereka merumuskan bahwa kemerdekaan bukanlah titik akhir, tetapi pintu gerbang, yang harus dijalani untuk mewujudkan negara sejahtera.

Masalah pertama yang langsung menimpa Israel ialah minuman dan makanan. Ketika masalah muncul yang keluar pertama kali dari mulut umat Israel adalah keluhan. Mereka membandingkan antara kehidupan di padang gurun dan Mesir. Lebih menarik lagi, ternyata mereka lebih suka menjadi budak ketimbang menjadi bangsa merdeka yang tidak memiliki makanan.

Tampaknya, mental budak telah berurat akar dalam hati, sehingga mereka merasa lebih nyaman sebagai budak. Kenyataannya memang demikian. Sebagai budak, mereka tidak perlu memikirkan makanan dan minuman. Asal mereka kerja baik, Sang Tuan akan memberi makanan.

Kepada Musa dan Harun mereka berujar, ”Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab mau membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan!” (Kel. 16:3)

Ternyata, meski sama-sama mati, orang Israel lebih suka mati dalam kondisi perut kenyang daripada mati dalam keadaan perut keroncongan. Padahal, mati dalam kondisi perut kenyang atau keroncongan sama-sama mati.

Mendengar uneg-uneg itu, Allah menunjukkan kesabaran-Nya. Allah pun agaknya memahami bahwa bangsa bermental budak itu sedang belajar menjadi bangsa merdeka. Dan belajar merupakan sebuah proses. Artinya, perlu waktu. Allah tidak menghukum Israel. Dia sendiri menyediakan manna dan burung puyuh, namun dengan satu syarat: setiap orang mengambil menurut keperluannya.

Ini merupakan pokok penting karena banyak orang tergoda menjadi serakah. Bukan mengutamakan kebutuhan, melainkan keinginan. Dan keinginan manusia memang tak terbatas. Syarat itu pun menjadi pokok Doa Bapa Kami: ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya!”


Yoel M. Indrasmoro

22 Sep 2014 ,written by Nikimaserika
 

POTRET PERIBADAHAN NATAL YANG FENOMENAL

POTRET PERIBADAHAN NATAL YANG FENOMENAL

Oleh : Yon Maryono


Fenomena dari bahasa Yunani; phainomenon, "apa yang terlihat", dalam bahasa Indonesia bisa berarti: gejala, fakta, kejadian yang dirasakan dengan pancaindra. Kata turunan adjektif, fenomenal, berarti: "sesuatu yang luar biasa". Peribadahan Natal dikatakan fenomenal karena Gereja dipenuhi jemaat yang beribadah tidak seperti ibadah mingguan biasanya. Ketika gereja-gereja di landa oleh fenomena ini, Pelayan atau petugas Gereja selalu mempersiapkan ruangan lebih luas dan tempat duduk lebih banyak dari biasanya. Mereka menyambut jemaat bagaikan anak yang hilang dalam kisah Alkitab..

Jemaat beribadah dengan kekhusukan, kekhidmatan untuk memuji dan menyembah kepada Tuhan. Demikian pula gerakan rasa simpati maupun empati kepada sesama juga tampak ketika aksi Natal itu ditransformasikan ke pelayanan sosial. Kesalehan personal seolah-olah menjadi lebih utuh baik hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Seolah kesalehan dan kebangunan rohani personal terbentuk pada puncaknya . Seolah pengakuan percaya bukan verbal yang hanya di mulut tetapi Pengakuan percaya didasarkan pengetahuan intelektual yakni pernyataan rohani yang seiring dengan perbuatan sebagai tanda ketaatan kepada Tuhan. Tampaklah peribadahan dan kegiatan Natal yang damai dan penuh suka cita. Itulah yang diharapkan dalam Tema dan Pesan Natal PGI dan KWI 2012 "Allah Telah Mengasihi Kita (1 Yoh. 4:19), yaitu terjadi spirit rohani dalam terang Kasih. Jemaat yang hadir di ibadah itu diajak untuk menanggapi kasih Allah dengan bertobat. Dan sungguh-sungguh mewujudkan kasih dalam perilaku yang bertanggung jawab terhadap alam ciptaan Tuhan dan melibatkan diri dalam persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Ini adalah kemauan yang diharapkan berkelanjutan.

Tetapi begitu peribadahan dan kegiatan Natal selesai, saat kembali dalam realita kehidupan sehari-hari, kita menghadapi fakta social yang tidak banyak berubah. Sebagian jemaat tetap bergumul dalam masalah ekonomi keluarga yang dirasa cukup berat, sehingga kesejahteraan ekonomi keluarga mereka melenyapkan kedamaian dan suka cita yang diperolehnya. Ada yang masih terlibat kekerasan Rumah Tangga, bahkan kriminal dan korupsi. Seolah, fenomena Rohani Natal yang begitu luar biasa itu bukan spirit Rohani yang terimpartasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Tetapi hanya terbatas pengalaman dan pengetahuan religius tentang makna Natal dalam pikiran dan tindakan sekejap, Fenomena rohani yang bersifat spiritual need yang semu, dalam arti ada diantara mereka datang untuk beribadah mencari Allah mungkin hanya ingin mengisi kekosongan dirinya sendiri yang bersifat pengalaman rohani pribadi. Atau ada jemaat datang ke Gereja karena beban social, kebiasaan, adat istiadat atau faktor lingkungan semata.

Tengoklah diri sendiri, mungkin kita paham firman Tuhan dan dasar-dasar iman Kristen yang benar. Mungkin kita juga tergerak untuk melakukan aksi social natal, tetapi kemauan untuk mewujudkan kasih secara konsisten kepada Tuhan dan sesama kenyataannya adalah hal yang lain pada saat melaksanakannya. Hal ini terjadi ketika manusia dihadapkan dengan masalah-masalah, kesulitan-kesulitan dan pertentangan dilingkungannya. Rasul Petrus pernah berkata : Sekalipun aku harus mati bersama-sama engkau, aku takkan menyangkal Engkau (Mat :26:35). Namun ia gagal mempertahankan kemauannya, ketika menghadapi rasa takut disebabkan ketegangan saat Yesus ditangkap. Tetapi keteguhan hati Petrus semakin mantap dan tetap mengikut Yesus tampak sampai akhir hidupnya Demikian juga Rasul Paulus mengakui aku bersifat daging, terjual dibawah kuasa dosa. Kemampuannya untuk melihat yang baik tetapi gagal melakukannya dan kemampuannya melihat yang jahat tetapi tidak mampu menahannya. Tetapi Paulus menyatakan dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani dosa (bdk Roma 7:25).

Apakah kita akan mengatakan tantangan jaman Petrus dan Paulus berbeda dengan jaman sekarang ? Pastilah berbeda, tetapi besar kecilnya tantangan bukan masalahnya. Kita bukan Rasul Petrus maupun Rasul Paulus, tetapi kita dapat meneladani Ketetapan hati mereka. Ketetapan atau keteguhan hati manusia yang sungguh-sungguh untuk selalu bersandar kepada Kristus adalah kata kuncinya.

Fenomena Natal semoga bukan cerminan dari keberagamaan semu, keberagamaan musiman, yang dilakukan karena beban sosial atau faktor lingkungan semata. Fenomena Natal bukan kemewahan tanpa arti, seperti dunia yang hanya cahaya indah, ternyata menipu. Oleh karena itu, membangun ketetapan hati yang sungguh-sungguh melalui firman Tuhan dan membangun hubungan pribadi denganNya melalui Gereja dan jemaat-Nya setiap hari adalah cara paling tepat untuk terhindar dari semua itu.

10 Jan 2013 ,written by Siswanto S.N.
 

DOA DIDALAM NAMA YESUS

DOA DIDALAM NAMA YESUS

Oleh : Yon Maryono

Bila kita mendengar akhir sebuah doa, sering kita dengar ucapan “ Didalam nama Tuhan Yesus”. Kalimat ini, kadang ducapkan dengan sungguh-sungguh, kadang diucapkan dengan cepat. Kesannya akhir doa itu sebuah formula yang ditiru oleh generasi ke generasi . Disisi lain, kita juga mendengar pendoa menghilangkan kalimat itu. Apapun ungkapannya, yang mengkuatirkan adalah mereka mengucapkan atau menghilangkan kalimat itu karena kurang memahami maknanya.

Dalam lingkaran organisasi sekuler, seorang pejabat, katakanlah Direktur yang menandatangani sebuah dokumen atas nama Direktur Utamanya diartikan kekuasaan dan kewenangan Direktur itu seperti kekuasaan dan kewenangan Direktur utamanya. Dia telah dipercaya penuh, sehati dan sepikir antara pemberi kuasa dan yang dikuasakan Ilustrasi sekuler ini dapat membantu memahami bahwa makna dalam nama-Ku menunjukan sejiwa, sekarakter antara Bapa dan Anak dalam hal wewenang dan kuasa.. Oleh karena itu, berdoa didalam nama Yesus, artinya Yesus sebagai Mediator atau penghubung antara manusia dan Allah Bapa yang Maha Kudus. Mengapa perlu penghubung ? karena manusia yang penuh dosa tidak dapat datang di hadirat Tuhan yang Maha Kudus. There is one God, and there is one mediator between God and men, the man Christ Jesus ( 1 Tim 2:5). Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, tak sorangpun datang kepada Allah Bapa tanpa melalui Dia. ( bdk. Yoh 14:6)

Bila Yesus satu-satunya jalan, pertanyaanya adalah bagaimana doa orang tidak percaya atau orang-orang yang hidup dalam perjanjian Lama ?

Anugerah Tuhan diberikan kepada semua orang, baik orang percaya maupun tidak percaya . Bahkan Matahari bagi yang jahat dan yang baik (Mat 5:45). Maksud kemurahan Allah menurut Paulus semata-mata menuntun manusia dalam pertobatan (Roma 2 : 4b). Dengan pemahaman ini, Allah pasti mendengar doa orang tidak percaya oleh karena kasih-Nya, tetapi jawaban atas doa itu semata-mata menuntun orang tidak percaya untuk berbailk kepada Yesus.

Sedangkan orang-orang yang hidup dalam Perjanjian Lama, kita mengenal semangat sacrifice, persembhanan korban dilingkungan Bait Allah dengan berbagai tujuan seperti penghapusan dosa, korban paskah (Kel 24:1-8), korban perjanjian (Ul 27:1 ; Yos 8:30) . Persembahan dalam PL bersifat simbolik tetapi ritus itu juga harus ditindak lanjuti niat dan pengabdian si penyembah untuk bertobat kepada Allah Abraham. Para Nabi dalam jaman itu menyaksikan ritual dan perubahan umat setelah bertobat ( Rowly, whorship in Ancient Israel). Benang merah antara PL-PB sangat jelas, di Gereja PB tidak ada lagi korban binatang karena Kristus sebagai domba Allah, telah dipersembahkan sebagai korban. Darahnya yang suci meniadakan dosa dunia ( Yoh 1:29 ; 1 Pet 1 : 18 dsb) . Dan semangat sacrificenya antara PL dan PB sama yaitu sikap rohani yang bercirikan penyerahan diri kepada Tuhan melalui korban hewan seperti domba (PL) dan Kristus (PB). Jadi melalui siapa kita berserah diri kepada Allah Bapa, kalau tidak melalui perantara Kristus ? Dengan demikian pengucapan syukur dengan iman kepada Yesus sebagai korban persembahan hidup adalah korban yang syah ( bdk. Ibr 13:15)

Jadi, berdoa didalam nama Yesus tidak hanya berdoa didalam kuasa-Nya, yang merefleksikan kekuasaan Allah Bapa, tetapi juga berdoa didasarkan kehendak-Nya. Contoh narasi dalam Alkitab, Petrus berkata kepada orang lumpuh dalam nama Yesus Kristus untuk berjalan ( Kis 3:6) ; ketika Petrus dan Yohanes dihadapan Mah

kamah Agama ditanya didalam nama siapa mereka bertindak (Kis 4:10) . Ketika Paulus mengusir roh jahat dalam nama Yesus Kristus (Kis 16: 18). Berdoa dalam nama Yesus bermakna : berdoa dengan mempergunakan kekuasaan Kristus artinya berdoa dengan penuh kepercayaan kepada-Nya bahwa Ia adalah satu-satunya Mediator kepada Allah Bapa (bdg. Mat. 28:19; Kis. 3:6) dan berdoa dalam kesatuan dengan Dia, artinya selaras dengan kehendak, kepribadian dan tabiat-Nya sehingga orang tidak berdoa di luar kehendak-Nya.

Penambahan formula doa dengan kalimat “didalam nama Yesus” akan tidak bermakna apabila kalimat doa itu diucapkan dengan kurang, bahkan tidak memahami maksudnya. Sesungguhnya, penempatan kalimat itu bukan karena tempatnya yang seolah diformalkan atau dibakukan tetapi pemahaman maknanya. Bagi pendoa yang mengetahui dengan benar makna berdoa “didalam nama Yesus” akan terucap dengan benar dalam doa sesuai sikap hati dan kedewasaan rohani pendoa walaupun tidak tertata secara formal.

Tuhan memberkati

07 Dec 2012 ,written by Siswanto S.N.
 

Penjelasan Simbol Bulan Keluarga 2012

Penjelasan Simbol Bulan Keluarga 2012


 

Menjadi


 

Logo menggambarkan bahwa dasar dari sebuah kehidupan adalah dari
keluarganya, dimana mereka, lahir, tumbuh, belajar, dan bersosialisasi.
Peran kedua orang tua yang menjadi panutan, menjadikan anak-anak
mereka sebagai cerminan orang tua atau dapat dianalogikan seperti
kertas putih yang dilukis menjadi sebuah karya, lewat goresan kedua
orangtuanya. Setiap keluarga bernaung pada sebuah atap, dimana
digambarkan dengan rumah dan lingkungannya sebagai core yang
mempengaruhi setiap pembentukan seorang individu. Dari kedua
hal ini jelas bahwa dalam mewujudkan manusia Kristen yang hidup
jujur, harus ditanamkan sedini mungkin, diawali dan didasari dengan
kejujuran, dan semuanya disempurnakan dengan rumah iman percaya
yang kokoh, dan iman takut akan Tuhan sebagai gerbang atau kunci
menuju hidup yang jujur. Dari kedua logo ini menggambarkan, bahwa
apa yang terucap selalu didasari oleh hati dan pikiran, dimana
keduanya selalu harus ditujukan keatas, kepada sang pencipta
digambarkan dengan kepala yang meruncing keatas. Sehingga, dasar
yang sudah ditanamkan didalam rumah akan terbawa ketika kita
keluar rumah dan menyebarkan kejujuran dan kasih pada tiap elemen
hidup dan kehidupan kita. Kejujuran sendiri identik dengan warna
hitam dan putih. Maka, ketika keluarga Kristen memiliki pondasi
rumah iman yang kokoh, tidak ada alasan lagi untuk tidak hidup jujur.
Tetaplah hidup jujur!

 

 

16 Oct 2012 ,written by Siswanto S.N.
 

KEJUJURAN SEMU DAN SEJATI

 

KEJUJURAN SEMU DAN SEJATI

Sebuah refleksi terhadap tema kejujuran dalam bulan keluarga

Oleh : Pnt. Maryono

 

Perhatikanlah kalimat yang diucapkan seorang politikus yang mengkritisi koleganya : Apa yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Dalam dunia sekuler sering kita dengar janji politik seorang calon Presiden, Gubernur atau Walikota/Bupati didemo karena apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan setelah mereka menjadi Pejabat. Masyarakat menuntut karena mereka tidak jujur kepada masyarakat pemilihnya. Tapi Pejabat yang bersangkutan tidak peduli akan janjinya, bahkan mereka bisa berkilah karena kebohongan soal biasa. Ini bentuk pemanfaatan “karakter kejujuran” yang di ekspresikan dalam ucapan yang tidak pernah dinyatakan. Ini adalah kejujuran semu yang dimanfaatkan untuk menipu. Kejujuran hanya sebuah topeng untuk menutupi kepalsuan. Didunia Gangster yang kita lihat dalam Film televisi, kesepakatan sebuah kejahatan bila dilanggar anggotanya bisa disebut tidak jujur, pengkhianatan dan berujung pembunuhan. Sungguh kata “kejujuran” dalam contoh ini menjadi semu maknanya. Kejujuran yang didasarkan kebenaran diri sendiri atau kelompoknya bukan kebenaran dalam Tuhan.

Arti kujuran dalam konteks karakter manusia ada berbagai makna. Kejujuran berasal dari kata jujur yang berarti lurus hati; tidak berbohong; tidak curang; tulus; ikhlas. Sedangkan kejujuran berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan hati (pusatbahasa.diknas.go.id). Dalam kamus bahasa Inggris disebut honest yang berarti respectable, decent, of neat appearance, free from fraud. Encyclopedia Wikipedia: “Jujur adalah sikap moral (dalam perkataan maupun perbuatan) yang mengandung atribut berharga berupa kebenaran, integritas, kesatuan antara tindakan luar dan hati, dan sikap lurus yang berarti juga absennya kebohongan, penipuan, dan pencurian. Menurut pendapat saya, kejujuran bukanlah sikap moral yang bersifat temporer, kadang muncul kadang tidak. Tetpi secara konsiten menjadi perilaku atau gaya hidup seseorang. Kebohongan hanya mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan peristiwa atau keadaan sebenarnya. Peristiwa itu bisa kemarin atau yang sedang terjadi, tetapi kebohongan tentang keadaan masa depan hanyalah ramalan. Kejujuran adalah masa lalu, sekarang dan konsisten dimasa depan.

Didalam Alkitab, ada perintah firman Tuhan, antara lain : Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak” (Yak 5:12). Itu sebabnya, kejujuran adalah sesuatu karakter yang utuh. Apa yang diucapkan susuai dengan apa yang dilakukakan, tidak tersisip unsur manipulasi sikap dalam bentuk kebohongan atau dusta. Sehingga kita dilarang saling mendustai : Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggallkan manusia lama serta kelakuannya (Kol 3:9). Dalam ajaran firman Tuhan juga mengungkapkan bahwa Kejujuran datang dari hati yang takut akan Tuhan (Ams 14:2). Kita lihat, contoh Ayub, seorang yang baik budi, ia mengalami musibah hebat. Ia kehilangan semua anaknya dan segala harta bendanya, lalu dihinggapi penyakit kulit yang menjijikan. Ditengah penderitaanya ia tetap setia dan tidak pernah menyimpang dari jalan yang ditentukan-Nya. Ayub jujur kepada Tuhan, mengakui kebijaksanaan dan keagungan Allah dalam rencana hidupnya. Kata Ayub : “Aku dilahirkan tanpa apa-apa, dan aku akan mati tanpa apa-apa juga. Tuhan telah memberikan dan Tuhan pula telah mengambil. Terpujilah nama-Nya “ . Inilah kejujuran sejati dihadapan Tuhan, kejujuran yang sangat konsisten walaupun ditengah badai cobaan yang diijinkan Tuhan. Berbeda dengan pemuda yang akan mengikut Yesus (Mark : 10 : 17-31), disyaratkan jual harta bendanya. Pemuda itu kabur oleh karena terikat dengan hartanya, ia tidak menyadari bahwa segala harta benda yang diperolehnya semata-mata oleh kebijaksanaan Allah. Pemuda itu tidak jujur dihadapan Allah.

Narasi diatas, menunjukan garis di Alkitab sangat jelas, makna kejujuran adalah sebuah pengakuan dalam iman bahwa anugerah keselamatan berasal dari pengorbanan Yesus dan berkat kekayaan semata-mata oleh karena didasarkan hikmat dan kebijaksanaan Tuhan. Berbeda dengan pemahaman sekuler yang diarahkan untuk kepentingan diri sendiri ,padahal segala kesalehan kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan (Yes 64:6).

Cobalah direnungkan, ketika Gereja memerlukan pelayan untuk melayani Kristus, orang jawab belum siap dengan alasan kesibukan kerja, tidak ada waktu dan sebagainya. Apakah mereka jujur dihadapan Tuhan, dan apakah dapat dikatakan mereka jujur kepada diri sendiri . Ya, mereka jujur kepada diri sendiri seperti pemuda yang meninggalkan Kristus. Jujur untuk kepentingan sendiri, jujur dalam tataran konsep duniawi. Pemuda itu sangat memahami pengajaran Tuhan dan mungkin sangat fasih membaca dan mengucapkan : Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapanMu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.( Mzm 119:112), tetapi sebatas pengetahuan pikiran tidak masuk dalam hati. Jujur pada diri sendiri dan sesama adalah kejujuran semu bila hati manusia sebagai pusat sinergi intelektual, emosi dan tindakan tidak pernah jujur dihadapan Tuhan. Ini adalah perjuangan yang memerlukan bantuan kekuatan yang sangat besar yakni Tuhan.

Tuhan mampukanlah kami untuk bersikap jujur dihadapan-Mu.

15 Oct 2012 ,written by Siswanto S.N.
 


Page 1 of 4