Adven II
Murnikan dan Bersihkan Diriku!
”Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.” (Mal. 3:2). Demikianlah nubuat Maleakhi tentang kedatangan Mesias. Mesias digambarkan sebagai api tukang pemurni logam dan sabun tukang penatu.
Api dan Sabun
Mesias digambarkan sebagai api dan sabun—pribadi yang memurnikan sekaligus membersihkan. Tugas-Nya: memurnikan yang cemar dan membersihkan yang kotor. Karena itulah, sang nabi berkeyakinan tak banyak orang yang tahan berhadapan dengan-Nya. Kebanyakan manusia cemar dan kotor. Maleakhi menubuatkan Mesias sebagai api. Bukan api yang menghanguskan, tetapi memurnikan. Dalam industri emas, api berfungsi memisahkan kotoran dari emas murni. Dengan api, tukang pandai emas dapat pula memisahkan emas murni dari logam-logam lainnya. Kita biasa menyebutnya logam mulia karena tidak dicemari logam lainnya. Tugas api bukanlah menghancurkan emas, namun memurnikannya. Logam tersebut tak musnah dalam nyala api. Semakin panas nyala api, semakin terlihat mana yang tulen dan mana yang palsu. Maleakhi juga menggambarkan Mesias sebagai sabun. Sabun berfungsi membersihkan pakaian. Sabun tersebut tidak dimaksudkan untuk mengoyakkan pakaian, tetapi menghilangkan kotoran. Tugas sabun bukan pula membuat pakaian berubah warna atau melunturkannya. Sabun bertugas menghilangkan noda. Persoalannya: apakah manusia mau dimurnikan dan dibersihkan? Untuk itu, perlu pengakuan diri terlebih dahulu. Manusia harus mengaku secara tulus dan tanpa paksaan: apakah dia sungguh cemar dan kotor? Tanpa itu, dia tidak butuh pemurnian dan pembersihan Mesias. Tujuan dasar Mesias melakukan semua itu ialah agar manusia layak mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Dengan kata lain: supaya manusia pantas berdiri di hadapan Tuhan. Dalam bagian ini, Maleakhi hendak mengingatkan umat akan beda hakikat antara Allah dan manusia. Allah itu murni, suci, dan kudus. Oleh karena itu, jika hendak bersekutu dengan Allah yang murni, suci, dan kudus itu, manusia pun harus mau dimurnikan, disucikan, dan dikuduskan oleh Allah sendiri.
Hidup dalam Pertobatan
Namun demikian, tak boleh kita lupa bahwa Allah tidak pernah bertindak sebagai tukang sulap yang berteriak abrakadabra, lalu manusia otomatis menjadi murni, suci, dan kudus. Tidak. Allah sendiri tidak pernah melalui jalan pintas dan mudah. Allah—Sang Mahakuasa—tentu bisa menghapus dosa manusia dalam sekejap. Tetapi, jalan macam begini tak pernah dilakukan-Nya. Allah tidak pernah memilih jalan pintas dan mudah. Allah lebih suka terlibat dalam proses. Allah sendiri menjadi manusia dan mati untuk manusia. Semuanya itu dilakukan Allah untuk menyelamatkan manusia. Manusia diundang untuk memilih untuk memercayai penyelamatan Allah itu atau tidak. Bahkan, orang percaya pun, tetap diberi kesempatan memilih. Kepada jemaat di Filipi, Paulus menulis: ”Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” (Fil. 1:9-11). Pilihan ada di tangan manusia. Allah tidak bertindak sewenang-wenang. Dia menghargai kebebasan manusia—itulah tanda bahwa manusia memang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Oleh karena itu, pesan Yohanes Pembaptis menjadi sangat relevan di Minggu Adven II (lih. Luk. 3:1-6). Anak Zakharia itu menyerukan pertobatan yang sungguh. Bertobat berarti berbalik dari cara lama ke cara baru. Baptisan menjadi tanda perubahan dari kematian cara hidup lama ke kebangkitan cara hidup baru. Yohanes meminta pendengarnya untuk hidup dalam pertobatan. Hidup dalam pertobatan berarti hidup sebagaimana Yesus hidup. Patokannya: hidup Sang Guru. Jadi, standarnya bukan diri sendiri, atau manusia kebanyakan, tetapi Yesus Kristus. Dalam setiap kesempatan kita perlu bertanya: ”Apa yang akan Yesus lakukan andai berada dalam situasi dan kondisi kita?” Jika kita tidak melakukan apa yang Dia lakukan, kita harus bertobat. Kekristenan bukanlah apa yang tidak kita lakukan tetapi apa yang kita lakukan! Kristus tidak hanya memanggil kita untuk tidak melakukan kejahatan, namun Dia memanggil kita untuk melakukan apa yang baik! Sekali lagi, kepada setiap orang yang telah menerima baptisan, pertanyaan yang layak kita gaungkan dalam diri: ”Masihkan cara hidup lama itu mencemari kehidupan baru kita?” Jika jawabannya masih, perlulah kita berdoa: ”Tuhan murnikan dan bersihkan diriku!”
Yoel M. Indrasmoro
08 Dec 2012
,written by Nikimaserika
|
Semangat Berbagi
”Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (Mrk. 9:38). Demikianlah laporan Yohanes kepada Yesus. Tampaknya, Yohanes, sebagai seorang pengikut Yesus, tak rela jika ada orang lain yang melakukan perbuatan ajaib atas nama Sang Guru. Di mata Yohanes, hanya para pengikut Yesuslah yang boleh melakukan perbuatan ajaib atas nama Yesus. Bukankah mereka adalah orang-orang terdekat Yesus? Yohanes tidak sendirian. Para murid lainnya agaknya juga merasa bahwa mereka adalah orang-orang istimewa. Bukankah Yesus sendiri yang telah memilih mereka dari kalangan orang banyak? Sebagai orang pilihan mereka beranggapan hanya merekalah yang boleh melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dalam nama Sang Guru.
Mukjizat adalah Karunia
Saya rasa mereka juga tidak sendirian. Di abad XXI ini para murid Yesus pun terkadang risi jika ada kelompok-kelompok yang mengembangkan karunia penyembuhan. Mungkin kita perlu bertanya dalam hati: ”Bagaimanakah perasaan kita jika ada gereja-gereja yang melakukan tindakan-tindakan penyembuhan dalam nama Yesus? Risikah? Jangan-jangan kita malah nggak rela jika ada kelompok-kelompok yang melakukan hal tersebut?” Yesus dengan tegas menyatakan kepada para murid-Nya: ”Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Tampaknya, Yesus sedang memberikan pelajaran kepada para murid dalam hal ini. Pertama, mereka tak perlu marah kalau ada orang yang mengusir setan dalam nama Yesus. Sesungguhnya mereka pun percaya kepada Yesus. Jika tidak, tentu mereka tidak akan melakukan penyembuhan itu dalam nama Yesus. Kedua, yang tak boleh dilupakan pula, mukjizat adalah karunia. Jika ada orang yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dalam nama Tuhan, dan Tuhan sungguh berkenan, maka mukjizat pasti terjadi. Tetapi, janganlah kita lupa bahwa mukjizat itu terjadi dalam nama Tuhan Yesus. Dengan kata lain, mukjizat itu tidak berasal dari orang itu sendiri. Tetapi, Tuhan berkenan melakukannya. Kalau Tuhan, mau nama-Nya dipakai, masak kita marah? Persoalannya ialah banyak orang lupa—berkait dengan mukjizat—bahwa mukjizat adalah karunia. Orang akhirnya lebih berfokus kepada manusianya, dan bukan Tuhan sebagai pemberi karunia itu. Yang dimuliakan sering kali bukan Tuhan, tetapi manusianya. Jangan kita lupa bahwa manusia hanyalah alat. Ketiga, di sinilah persoalan para murid Yesus. Ketika mereka mencegah orang-orang itu melakukan mukjizat dalam nama Yesus, agaknya mereka tidak rela jika ada orang menjadi lebih terkenal dari mereka. Mereka lupa bahwa mukjizat adalah karunia. Tetapi, memang itulah yang sering terjadi bukan. Ketika ada orang sanggup melakukan mukjizat maka banyak orang berbondong-bondong datang kepadanya dan mengelu-elukan dia. Mereka lupa bahwa semuanya itu sejatinya hanyala karunia Tuhan. Kalau sudah begini, maka rasa sirik atau iri akan makin menebal. Mereka iri karena sesungguhnya merekalah yang ingin menjadi terkenal. Kalau sudah begini, maka saya sepakat dengan ungkapan anak muda tahun 80-an: ”Sirik tanda tak mampu!”
Pertolongan Tuhan
Sekali lagi, di sinilah persoalan manusia. Rasa iri. Dan berkaitan dengan rasa iri, maka baiklah kita hati-hati dengan rasa iri itu. Alkitab mencatat bahwa rasa irilah yang menyebabkan terjadinya pembunuhan manusia pertama. Ketika Kain dikuasai rasa iri, maka Habel mati. Padahal, kalau kita mau berpikir sedikit saja, ya mengapa Kain mesti iri. Bukankah masalah menerima persembahan atau tidak merupakan hak prerogatif Allah saja? Lalu, mengapa harus iri? Seandainya Kain mau mengoreksi diri! Sebab ujung-ujungnya, apa pun yang dipersembahkan kepada Tuhan, bukankah semuanya memang merupakan pertolongan yang dari Tuhan sendiri (lih Mzm 124:8). Kalau semua yang kita lakukan adalah merupakan pertolongan Tuhan, lalu mengapa kita harus merasa bermegah dengan apa yang kita perbuat. Bukankah, sekali lagi, semuanya merupakan pertolongan dari Tuhan sendiri? Yang juga perlu diperhatikan oleh para murid masa itu, dan kita pada maka ini, adalah pertanyaan reflektif: ”Mengapa kita tidak melakukannya?” perhatikan bahwa di balik pengusiran setan itu ada semangat berbagi dari orang-orang itu—berbagi berkat dalam nama Yesus. Mereka tidak ingin menjadikan kuasa Yesus itu miliknya sendiri. Mereka membagikannya dengan orang lain. Dan itu pulalah yang ditandaskan Sang Guru: ”Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mrk 9:41). Kembali pertanyaannya, mengapa kita tidak melakukannya? Lalu, ketika orang lain melakukannya, kita malah tersinggung. Aneh bukan? Jangan-jangan kita memang ingin mendapatkan nama!
Belajar Berbagi
Sekali lagi, kita tidak perlu tersinggung jika orang lain melakukan tindakan-tindakan yang membuat nama Tuhan dimuliakan! Dan selanjutnya kita pun perlu belajar berbagi. Dengan kata lain, kita perlu melatih lebih banyak orang untuk menjadi mumpuni dalam pelayanan. Menjadi bagian kita untuk belajar berbagi. Itu pulalah yang ditekankan dalam hari raya Purim. Hari raya Purim mengingatkan orang Israel bahwa mereka telah dilepaskan dari rencana pemusnahan. Dan karena itu mereka perlu merayakannya dengan cara: ”menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin” (Est: 9:22). Perhatikan: perayaan dilakukan dengan cara berbagi kepada orang-orang miskin. Masih dalam semangat berbagi, Yakobus dalam suratnya kepada jemaat di perantauan mengajak umat berbagi berkat—berbagi doa! Inilah syafaat itu—mendoakan orang lain! Memang, lebih mudah mendoakan orang lain kalau kita sedang dalam persekutuan bersama. Tetapi, apakah kita juga rela mendoakan orang lain jika kita sendirian? Berdoa berarti mengajak Tuhan terlibat dalam persoalan-persoalan manusia. Dan kepedulian kita terhadap orang lain—tersirat saat kita mendoakan mereka dalam doa-doa pribadi kita. Nah, mari kita bersyafaat!
Yoel M. Indrasmoro
29 Sep 2012
,written by Nikimaserika
Kasih-Nya Bagi Semua
”Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus.” (Mrk. 7:24). Sang Guru memang gemar bergerak. Dia tidak mau diam. Dia suka berkarya—bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain.
Ke Daerah Tirus
Catatan Penginjil Markus tadi memperlihatkan Yesus sebagai pribadi merdeka. Dia bebas bergerak. Dia tidak bergerak menurut kata orang. Bahkan, gerakannya melampaui garis demarkasi yang dibuat orang pada masa itu. Frasa ”pergi ke daerah Tirus” berarti melangkahkan kaki ke tempat yang dianggap kafir. Itu bukan perkara biasa. Kebanyakan orang Yahudi menganggap diri umat pilihan. Untuk mempertahankan status tersebut, mereka berupaya untuk tidak tercemar. Mereka segan bergaul dengan bangsa non-Yahudi. Sekali lagi, takut tercemar. Yesus berbeda. Guru dari Nazaret itu sengaja menjejakkan kaki-Nya di Tirus. Dia tak takut tercemar, bahkan berkarya di ”wilayah kafir”. Di mata-Nya semua orang sama: sama-sama ciptaan Allah. Karena itulah, tak seorang pun berhak membeda-bedakan orang. Sikap membeda-bedakan berarti menghina Allah, yang telah menciptakan mereka. Dalam pandangan tersebut bergema kembali amsal Yahudi: ”Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah Tuhan.” (Ams. 22:2). Dalam BIMK tertera: ”Orang kaya dan orang miskin mempunyai satu hal yang sama: Tuhan-lah yang menciptakan mereka semua.” Memang ada beda di antara keduanya. Namun, satu hal tetap sama: semuanya ciptaan Allah. Situasi dan kondisi mereka pun tak lepas dari pemeliharaan Allah. Oleh karena itu, si kaya tak perlu tinggi hati dan si miskin tak usah rendah diri. Bagaimanapun, keberadaan mereka tak lepas dari campur tangan Allah. Persoalannya memang sering di sini. Manusia acap membeda-bedakan orang berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Dengan tajam, kepada kedua belas suku di perantauan, Yakobus menulis: ”janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (Yak. 2:1).
Tak Memandang Muka
Yesus paham setiap orang berbeda. Namun, Guru dari Nazaret ini tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membedakan. Ketika melangkahkan kaki-Nya ke Tirus Yesus menganggap orang Tirus sama berharganya dengan orang Yahudi. Bahkan di antara orang non-Yahudi sendiri, sikap Yesus sama. Bukan kebetulan, jika penulis Injil Markus menempatkan kisah penyembuhan seorang bisu-tuli setelah penyembuhan anak perempuan dari seorang ibu Yunani keturunan Siro-Fenesia. Kisah pertama penuh dialog—bahkan terasa kasar. Ibu yang ingin anak perempuannya sembuh rela mengibaratkan dirinya sebagai anjing! Itu bukanlah sekadar sikap kerendahan hati. Juga bukan trik yang akan membuat Yesus iba. Sesungguhnya, pengibaratan itu merupakan ungkapan iman. Perempuan Siro-Fenesia itu menyadari, berkait dengan penyelamatan Allah, manusia secara asasi bergantung penuh kepada Allah. Allahlah yang berdaulat. Ibu itu tak mempersoalkan mengapa Allah memilih Israel. Pemilihan itu memang bukan soal adil atau tidak adil, namun persoalan kedaulatan. Dia menerima kedaulatan Allah tanpa syarat. Ibu itu agaknya juga menyadari, Allah memilih Israel untuk menjadi berkat bagi bangsa lain. Perempuan Siro-Fenesia itu percaya bahwa kasih Tuhan tak hanya buat Israel. Israel hanya alat. Tak heran, dia berani mendebat Sang Guru dari Nazaret yang sedang naik daun itu. Pengibaratan sebagai anjing, malah menjadi jalan masuk bagi perempuan itu untuk memohon anugerah Allah. Dia tak merasa perlu mendapatkan roti utuh. Remah-remah pun cukup baginya. Tampaknya dia paham, baik remah maupun utuh, toh namanya tetap roti. Dengan kata lain, yang penting bukan besar atau kecilnya anugerah, tetapi anugerah Allah itu sendiri. Yesus, yang mengagumi imannya, mengabulkan permohonannya. Kisah kedua tiada dialog. Tak ada permintaan dari si sakit karena dia penderita bisu-tuli. Dia pun tak datang sendirian sebagaimana perempuan Siro-Fenesia itu. Orang-orang yang prihatin akan keadaannya membawa orang itu kepada Yesus. Yesus agaknya terkesan dengan keprihatinan mereka. Yesus tampaknya juga melihat hasrat dalam diri si penderita. Memang tanpa kata. Namun, sorot mata dapat menyiratkan keinginan terdalam manusia. Yesus juga menyembuhkannya. Kedua kisah penyembuhan tersebut memperlihatkan bahwa Yesus tidak membedakan orang. Dia mengasihi orang yang berani berargumentasi dengan-Nya, tetapi juga mengasihi orang yang tak mungkin mengucapkan keinginannya karena bisu. Yesus merasa kagum dengan iman perempuan itu, tetapi Dia juga tidak mengabaikan keberadaan si bisu-tuli. Sang Guru dari Nazaret tidak memandang muka. Semua orang berharga di mata-Nya. Kasih-Nya bagi semua. Iman tanpa perbuatan mati. Dan Perbuatan itu, sebagai pengikut Kristus, harus dilakukan tanpa memandang muka. Itu jugalah nasihat Yakobus bagi kedua belas suku di perantauan. Bagaimana dengan kita?
Yoel M. Indrasmoro
08 Sep 2012
,written by Nikimaserika
Membangun Hidup Bersama Melalui Perkataan
”Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” (Mrk. 7:5). Inilah kalimat yang keluar dari mulut beberapa orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka tidak mengada-ada dengan pertanyaan itu. Agaknya, mereka pun heran menyaksikan bagaimana para murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Di mata mereka para murid Yesus telah meremehkan adat Yahudi. Ini bukan persoalan biasa. Di mata mereka apa yang dilakukan para murid Yesus merupakan pelanggaran serius.
Budaya Injili Yesus tidak kalah seriusnya menanggapi pertanyaan itu. Dengan tegas Guru dari Nazaret itu menelanjangi keadaan kebanyakan orang Yahudi yang lebih suka memperhatikan hal-hal kecil secara rinci ketimbang alasan di balik pelaksanaannya. Dengan tegas Yesus menjawab: ”Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk. 7:6-8). Dalam pernyataannya itu, Yesus menegaskan bahwa adat istiadat merupakan hal penting. Tak ada yang salah dengan adat. Tetapi, ketika adat malah membuat manusia tidak manusiawi lagi, manusia harus lebih berpegang kepada perintah Allah. Pada titik ini Yesus hendak mengedepankan bahwa perintah Allah harus lebih ditaati. Bagaimanapun, manusia adalah hamba Allah dan bukan hamba manusia, apa lagi hamba adat istiadat. Adat istiadat ada untuk manusia dan bukan sebaliknya. Jika budaya malah membuat manusia tidak lagi bersikap manusiawi, maka budaya semacam itu harus direformasi. Persoalannya, berkaitan dengan budaya kita lebih suka menjaganya dari perubahan zaman ketimbang mengubahnya. Sehingga kita lebih suka memeliharanya tanpa syarat daripada mempertanyakannya. Alasan yang biasa dipakai: ”sudah dari sononya”. Kalau itu alasan yang dipakai, mari kita berpikir kritis! Apa yang dimaksud dengan frasa ”sudah dari sononya”? Apakah itu berarti sejak dunia diciptakan? Tentunya, bukan! Mungkin saja budaya semacam itu baru berlangsung satu abad. Jika demikian, frasa ”sudah dari sononya” tidak sahih. Artinya, tak ada alasan untuk tidak mereformasi budaya. Oleh karena itu, kita harus menerangi budaya itu dengan Injil. Injil adalah kabar baik. Kita harus menilai budaya itu: apakah budaya itu merupakan kabar baik bagi manusia atau malah telah menjadi kabar buruk? Itulah budaya Injili. Budaya Injili berarti hidup menurut Kristus.
Mendengarkan Allah Tak heran, jika Yesus sendiri berkata: ”Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah!” Yesus menjadikan diri-Nya sendiri sebagai norma. Sejatinya, setiap Kristen harus menjadikan Yesus Orang Nazaret sebagai norma. Bukankah Kristen artinya pengikut Kristus? Aneh bukan, jika kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus tetapi tidak bertindak seperti yang Kristus lakukan. Persoalan terbesar orang Farisi dan ahli Taurat tadi ialah mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkan Allah. Mereka lebih suka mendengarkan diri sendiri. Tak heran pula, karena merasa benar sendiri mereka langsung mengkritik orang lain. Pada titik ini, benarlah nasihat Yakobus kepada kedua belas suku di perantauan: ”Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yak. 1:19). Harus diakui, inilah kelemahan saya. Meski saya sadar bahwa modal terbesar seorang komunikator adalah telinga, tetapi kadang telinga ini sekadar cantelan. Padahal cara kerja telinga itu tidak seperti mata, yang memang bisa dibuka dan tutup. Tidak ada kelopak telinga. Kalau sudah begini, sikap Maria, Ibu Yesus, sungguh layak diteladani. Dalam beberapa peristiwa, yang dicatat penulis Iniil, Maria selalu menyimpan segala perkara itu dalam hatinya. Menyimpan perkara itu dalam hatinya berarti tidak langsung bereaksi. Namun, ini catatan Yakobus, menerima firman Allah dengan lemah lembut. Dalam BIMK tertera: ”Terimalah dengan rendah hati perkataan yang ditanam oleh Allah di dalam hatimu, sebab perkataan itu mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan kalian” (Yak 1:21). Alasannya sederhana, firman Allah itu mempunyai kuasa menyelamatkan manusia.
Tidak Berarti Diam Seribu Basa Namun, itu tidak berarti kita tak boleh bicara. Lambat berkata-kata berarti tahu kapan saat yang tepat untuk bicara. Ketepatan waktu dalam bicara akan memampukan kita membangun orang lain. Kalau harus bicara, baiklah kita belajar dari salah satu mazmur bani Korah. Menarik untuk disimak, bahwa Mazmur 45 tergolong dalam nyanyian kasih. Itu berarti, kalaupun harus bicara baiklah pembicaraan itu berdasarkan kasih. Lagi pula, kita sama-sama tahu bahwa kritikan, sebenar apa pun, pastilah meninggalkan luka. Dan meski luka itu sudah sembuh, tapi toh bekas lukanya tetap ada. Oleh karena itu, jika kata-kata kita tidak sungguh-sungguh mampu membangun orang, sebaiknya kita berdiam diri saja. Atau, kalau kita sungguh-sungguh yakin bahwa kritikan itu memang bukan untuk melampiaskan ego kita, tetapi memang untuk kebaikan orang tersebut, maka kritikan sebaiknya di bawah empat mata. Dengan kata lain, Jika kita hendak mengatakan kebaikan seseorang, baiklah itu dikatakan di depan umum. Tetapi, kalau hendak mengkritik seseorang, baiklah itu kita lakukan di bawah empat mata. Itulah nyanyian kasih. Jangan ragu-ragu untuk memuji. Itu pulalah yang dilakukan sepasang kekasih dalam kitab Kidung Agung (Kid. 2:8-13). Mereka tidak saling menjatuhkan, tetapi saling memuji! Mengapa? Karena mereka mengasihi pasangan hidupnya! Lagi pula, kalau bukan kita yang memuji pasangan hidup kita, siapa lagi yang akan memujinya. Kita pun kemungkinan akan sewot kalau mantan pacarnyalah yang memuji pasangan hidup kita! Nah, selamat membangun hidup sesama kita melalui perkataan!
Yoel M. Indrasmoro
01 Sep 2012
,written by Nikimaserika
Hidup Berhiaskan Kekudusan
”Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Perhatikanlah keterangan waktu yang dipakai oleh Yesaya bin Amos: ”dalam tahun matinya raja Uzia”. Catatan waktu ini menjadi bermanfaat jika kita hendak memahami konteks dari panggilan Yesaya ini. Menurut catatan Israel: ”Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.” (2Taw 26:4-5). Kesimpulan penulis cukup menarik untuk diperhatikan: ”selama ia mencari Tuhan, Allah membuat segala usahanya berhasil.” Dan memang itulah yang terjadi. Pada akhir hayat Uzia telah menjadi sombong. Penulis mencatat: ”Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan” (2Taw 26:16). Dalam BIMK tertera: ”Setelah Raja Uzia kuat, ia menjadi sombong, dan itu menyebabkan kehancurannya. Ia melanggar perintah TUHAN Allahnya karena memasuki Rumah TUHAN untuk membakar dupa di atas mezbah dupa.” Kesombongan menyebabkan kehancuran Uzia. Dia melampui batas kewenangan. Dia tidak sekadar ingin menjadi raja, tetapi dia juga merasa mampu menjadi imam. Ketika Imam Azarnya menegurnya, Uzia semakin marah. Ketika dia marah, kusta pun mulai muncul di dahinya. Dan raja pun akhirnya meninggal karena kusta. Nama Uzia berarti Tuhan adalah kekuatanku. Dan itulah yang terjadi dalam awal pemerintahannya sebagai raja. Namun, ketika raja tergoda untuk menjalankan tugas imamat—melanggar ketetapan Tuhan—pada titik itulah dia menganggap diri lebih besar dari Tuhan. Dan Tuhan pun menghukumnya. Kematian Uzia terasa mengenaskan. Kematiannya mengingatkan umat umat Allah betapa pentingnya hidup kudus di hadapan Tuhan. Itu pulalah yang diserukan makhluk surgawi: ” "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes 6:3). Wajarlah jika Yesaya berseru: ”Celakalah aku! aku binasa!” Yesaya menyadari keberadaannya—”Sebab aku ini seorang yang najis bibir”. Ungkapan ”najis bibir” bisa berarti dua hal: mengatakan hal yang tak patut atau diam ketika seharusnya mengatakan hal yang seharusnya. Biasanya kita lebih menekankan pada hal pertama dan melupakan hal kedua. Padahal, cara kerja mulut bukanlah otomatis. Semuanya tergantung pada pikiran dan hati kita. Dan Yesaya mengakui bahwa dirinya najis bibir. Namun, itu tak berlangsung lama. Allah sendirilah yang membersihkan bibir Yesaya. Dan setelah pembersihan itu, tibalah saat pengutusan. Ketika Allah bertanya siapa yang mau menjadi utusan-Nya? Bibir Yesaya yang telah disucikan pun menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8). Kisah Yesaya, juga Nikodemus, mengingatkan kita akan pentingnya hidup kudus di hadapan Tuhan. Pemazmur mempunyai istilah unik: ”berhiaskan kekudusan” (Mzm 29:2). Itu berarti hidup kudus bukan sekadar ritual, tetapi berdasarkan hati yang sudah diberihkan oleh Tuhan. Itulah yang dinyatakan Yesus ketika bercakap dengan Nikodemus perihal dilahirkan kembali. Setiap orang perlu dilahirkan kembali. Bahkan, orang yang tampak saleh pun, seperti halnya Nikodemus, perlu dilahirkan kembali. Bayangkan, apa kurangnya Nikodemus. Dia seorang pemimpin agama. Itu berarti secara aturan dia mau nggak mau harus melakukan apa yang baik, meski sekadar pencitraan. Tetapi, di sini memang persoalannya. Sebab kesalehan semu akan membuat manusia jatuh pada kesombongan pribadi. Kelahiran kembali berarti dilahirkan oleh Roh Allah. Itulah yang menjadikan mereka sebagai anak-anak Allah. ”Dan anak Allah berarti dipimpin oleh Roh Allah” (Rm 8:14). Sehingga Paulus menekankan: ”Jadi, Saudara-saudara, kita adalah orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm 8:12-13). Hidup menurut Roh berarti menundukkan diri kita dibawah pimpinan Roh. Perhatikan kembali apa yang dilakukan Uzia! Dia sungguh tampak saleh ketika memasuki Bait Allah. Dia memang orang yang diberkati Tuhan. Tetapi, apa yang dilakukannya sungguh melawan ketetapan Tuhan. Dan dia tidak bersedia ditegur. Persoalan Uzia sejatinya adalah tidak mau ditegur. Orang bisa salah. Hanya persoalannya apakah dia mau ditegur ketika salah dan akhirnya bertobat? Dan bersedia ditegur merupakan salah satu inti dari pertelaan dalam sakramen baptis. Orang yang dibaptis dewasa atau orang tua yang membaptiskan anak harus bersedia ditegur sebelum sakramen baptis dilaksanakan. Demikian juga para pejabat gerejawi harus bersedia ditegur baik sebelum peneguhan atau penahbisan dilaksanakan. Mau ditegur merupakan modal dasar dalam hidup bermasyarakat. Bagaimana mungkin kita dapat menegur orang, jika diri kita sendiri tidak mau ditegur? Dan itulah hidup yang dipimpin oleh Roh Allah. Amin.
Yoel M. Indrasmoro
02 Jun 2012
,written by Nikimaserika
|
|